Globalisasi telah dan masih menjadi sebuah isu utama dalam wacana mengenai dunia. Dalam hal ini, berkembang banyak pemikiran yang mempertanyakan berbagai sisi di dalamnya; baik definisinya, konsekuensi, hingga berbagai kritik terhadap konsep ini. Wyszomirski dalam Feigenbaum (2001)[1] merujuk globalisasi sebagai sebuah “proses yang sedang bekerja”. Dari segi ekonomi, globalisasi dilihat sebagai –secara beragam- sebuah proses dimana bisnis berkembang di dalam pasar seluruh dunia; sebagai peningkatan integrasi dari pasar dunia dan pembagian tahapan produksi yang berbeda di berbagai area dengan manfaat kompetitif yang paling jelas; atau peningkatan ketegantungan bisnis dan sistem finansial. Sedang dari segi teknologi, globalisasi adalah internasionalisasi komunikasi, media, dan pengiriman informasi dan sistem distribusi baik pendukung maupun penggerak kemunculan ekonomi global. Komunikasi multinasional dan transnasional serta korporasi dunia sekarang telah menggunakan wireless, fiber optic, dan terknologi berbasis internet untuk mengatur dan memasarkan produk mereka secara global. Internet dan aktivitas yang berhubungan dengannya telah membuat akses informasi menjadi lebih mudah dan cepat dari sebelumnya. Dan teknologi terus berkembang pesat.
Penjelasan awal mengenai globalisasi di atas akan menjadi landasan dalam esai ini yang menelaah bagaimana dominasi industri budaya secara global telah terjadi. Sebelumnya, perlu disinggung mengenai apa yang disebut sebagai industri budaya. Menurut UNESCO, industri budaya adalah industri yang mengkombinasikan kreasi, produksi, dan komersialisasi konten yang tidak nyata dan memiliki nilai budaya. Konten tersebut secara tipikal dilindungi oleh hak cipta dan dapat berupa barang atau jasa. Dirincikan oleh NAFTA, industri budaya berarti orang yang terikat dalam aktivitas terkait publikasi, distribusi, penjualan, atau pertunjukan media cetak (buku, majalah, dan Koran baik dalam bentuk cetak maupun bentuk yang terbaca dengan mesin), film atau rekaman video, rekaman musik audio atau video, dan komunikasi radio untuk penyiaran yang ditujukan bagi penerimaan oleh masyarakat umum. Pada esai ini, hal spesifik yang diangkat adalah mengenai dominasi produk hiburan Hollywood, yaitu film, sebagai sebuah industri budaya yang telah mendominasi pasar global.
Merefomulasikan Hollywood sebagai Sinema Global
Langkah awal untuk memahami bagaimana Hollywood dapat mendominasi industri budaya global adalah dengan menilik pada sejarah awal munculnya ambisi global dan kecenderungan pasar domestiknya yang luas dan kaya. Phil Rosen, dalam tulisannya yang berjudul “Reformulating Hollywood as Global Cinema” yang fokus dalam pembahasan globalisasi secara historis dan konsep teoritis film dalam klasifikasi sinematik, berargumen bahwa dominasi Hollywood diraih melalui kesuksesan internasional jangka panjang . Rosen berargumen bahwa tahun 1910 dan 1920-an adalah waktu terbentuknya ambisi global Hollywood baik secara tekstual maupun industri. Konsekuensi komersial dan militer dari Perang Dunia I menjadi hal penting bagi Hollywood karena membuka jalan baginya untuk mengambil manfaat dari infrastruktur transportasi dan komunikasi dari Kerajaan Inggris. Kemudian diantara tahun 1870-an dan 1920-an -selama masa ketiga atau “tinggal landas” (take off) dalam model globalisasi Roland Robertson- sinema ditemukan dan film mulai didistribusikan ke seluruh dunia.

Hollywood
Menurut Lorenzen (2008)[2], selama setengah abad pertama, Hollywood telah menjadi produsen film terbesar di dunia dengan dasar dari peningkatan kekayaan dari populasi Amerika Serikat yang pada waktu itu kebanyakan bergantung pada sinema sebagai sarana hiburan massa. Lebih lanjut, memang kecenderungan yang terlihat pada negara-negara yang telah menjadi terspesialisasi dalam produksi film, negara yang memiliki jumlah rilis film feature non-subsidi yang tinggi, adalah negara-negara dengan jumlah penonton dalam negeri yang besar, seperti India (1041 film dirilis pada 2005), AS (599 fil rilis pada 2006), Jepang (417 film pada 2006), dan Cina (330 film pada 2006) (data dari European Audiovisual Observatory, 2007). Selain itu, negara dengan pasar domestik yang besar juga secara relatif terlindungi dari impor. Mengacu pada preferensi dan gaya bahasa konsumen, film-film impor biasanya mengalami keterasingan, dan negara kecil yang mengekspor pada pasar yang lebih besar akan mengalami kerugian dibandingkan negara besar yang mengekspor ke pasar yang lebih kecil (Hoskins and Mirus, 1988)[3]. Hollywood sendiri, menurut data dari Screen Digest, pada tahun 2006 telah mencakup pasar dometik AS sebesar 93,4%.
New Hollywood
Pada tahun 1980-an, para analis mulai banyak mebicarakan mengenai apa yang mereka sebut sebagai “New Hollywood”[4]. Scott (2002) menyebutkan bahwa bentuk baru ini muncul secara perlahan melalui restruksturisasi studio lama yang terjadi antara tahun 1950-1970-an yang pada akhirnya tidak hanya menghasilkan suatu model bisnis yang baru tetapi juga estetika baru dalam sinema popular. Bentuk baru ini muncul sebagai akibat dari lima hal yang secara prinsip memberikan perubahan, yaitu:
- Penetrasi dari teknologi baru yang terkomputerisasi ke dalam semua tahapan proses produksi dan distribusi gambar-gerak (motion picture) atau film.
- Percabangan (bifurcation) yang terus menerus dari sistem baru Hollywood sebagai pembuat film blockbuster berkonsep tinggi di satu sisi, dan pembuat film independen yang lebih sederhana di sisi lain.
- Desentralisasi geografis yang intensif dari aktivitas pengambilan gambar film jauh dari kompleks utama Hollywood.
- Pertumbuhan pasar baru berdasarkan pengemasan dan pengemasan kembali dari hak kekayaan intelektual.
- Bergabungnya studio besar ke dalam konglomerasi media raksasa yang skala operasinya bersifat global
Hollywood’s Technology and Economic of Scale
Lorenzen (2008)[5] mengatakan bahwa yang menjadi perhatian ketika kemudian industri film menjadi besar dengan ukuran pasar yang meningkat adalah ketidakpastian permintaan dan pentingnya skala ekonomis. Sebagaimana semua industri budaya, selera konsumen untuk film juga tidak dapat diprediksi, dan sulit untuk meramal apakah sebuah film akan sukses atau di box office. Beberapa indikasi yang umum dilakukan oleh Hollywood untuk mengatasi ini adalah dengan mengembangkan teknologi sehingga mampu menghasilkan produk film yang mampu menarik minat penonton. Disebutkan di atas oleh Scott (2002), penetrasi teknologi komputer di semua lini produksi dan distribusi telah menghasilkan bentuk baru dari model bisnis Hollywood. Teknologi komputer telah mendorong Hollywood untuk mampu membuat film blockbuster dengan efek-efek komputer yang mampu memanjakan mata penonton. Dalam hal ini komputer telah meningkatkan kualitas dari produk film. Contohnya adalah apa yang terlhat di film-film semacam Trilogi Lord of The Ring atau Matrix yang dengan teknologi CGI mampu menghasilkan efek peperangan yang dahsyat.
Teknologi komputer juga membawa economies of scale manakala industri hiburan mencoba memaksimalkan keutungan dengan memperpanjang usia produk melalui divesifikasi produk. Economies of scale produk film ini tercapai manakala biaya first-copy yang mahal kemudian dapat ditekan dalam penggandaan berikutnya dengan diperbanyak melalui komputer dalam format CD, DVD, Blu-Ray, atau file digital yang dapat diunduh melalui internet. Jadi, selain produsen mendapatkan keuntungan utama dari pemutaran di bioskop, mereka dapat memperpanjang masa ekonomis dari produk film melalui penggandaan produk film yang dijual setelah masa tayang di bioskop berakhir. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Scott (2002) dimana model baru bisinis Hollywood muncul melalui pertumbuhan pasar baru berdasarkan pengemasan dan pengemasan kembali dari hak kekayaan intelektual.
Sistem Produksi Bercabang dan Distribusi
Ketidakpastian dan skala ekonomi dari pasar terhadap film feature telah mempengaruhi organisasi dari industri film Hollywood. Lorenzen (2008) menyatakan bahwa terjadi kecenderungan heterogenitas organisasi pada level perusahaan atau industri film di AS yang melayani pasar massa kemudian berkembang ke dalam integrasi horizontal. Pada awal abad yang lalu, integrasi terjadi di level proses produksi, dimana studio besar memproduksi film melalui cara memperkerjakan pekerja kreatif dan teknis dalam waktu lama. Namun kemudian, prinsip ini berubah setelah 50 tahun berjalan terlihat bahwa model outsourcing pekerja kreatif dan teknis ternyata lebih fleksibel dalam menghasilkan inovasi produk film. Belakangan, yang juga terjadi adalah juga integrasi vertikal dimana industri budaya Hollywood tidak sekedar bergabung dalam proses produksi melainkan juga dalam jaringan distribusi dan promosi.
Menurut Scott (2002)[6] perusahaan besar semacam Metro-Goldwyn-Mayer, Paramount Pictures, Sony Pictures Entertainment (Columbia-Tristar), Twentieth Century Fox, Universal Studios, Wa Disney Company, Warner Brothers, dan Dreamworks tidak lagi sekedar terfokus pada model tradisional yang terkonsentrasi pada masalah keuangan, produksi dan distribusi film, tetapi beberapa dekade terakhir mereka secara efektif mendiversifikasikan operasinya, sehingga sekarang mereka mampu meraih banyak keuntungan melalui divisi khusus mereka di bidang seperti program televisi, home video, multimedia, theme parks, dan merchandising. Sekarang, hampir sebagian besar produsen besar Hollywood adalah unit operasi yang berada di bawah media multinasional dan konglomerasi hiburan (Litman, 2001)[7]. Contohnya Fox yang berada di bawah News Corporation, Columbia Tristar di bawah Sony, dan Universal di bawah Vivendi. Berkembangnya kompleksitas dari konglomerasi ini dapat dianggap berasal dari sebuah usaha besar untuk menginternalisasikan sinergi yang secara berkala ditemukan dalam hubungan diantara segmen yang berbeda dari media dan industri hiburan.

Media consolidation
Scott (2002) menjelaskan, konglomerasi dan konsolidasi medai dan produsen besar di Hollywood sebuah pola dinamika produksi yang kompleks. Elemen kunci dari kompleksitas produksi Hollywood sekarang dapat dideskripsikan dengan merujuk pada empat fitur fungsional dan organisasional berikut:

Hollywood production complexity
(1) Sejumlah jaringan produksi yang saling melengkapi dalam beragam tahap integrasi vertikal. Syarat dari jaringan ini tersusun oleh produsen major, independen, dan penyedia layanan khusus dari penulisan naskah hingga pengeditan film
(2) Pasar tenaga kerja lokal yang terdiri dari individu dalam jumlah besar yang terdiferensiasi berdasarkan keahlian, sensibilitas, dan bentuk kebiasaan. Pasar tenaga kerja ini secara konstan diisi oleh talenta baru yang berasal dari seluruh wilayah Amerika Utara dan dunia.
(3) Lingkungan institusional yang dibuat oleh banyak organisasi dan asosiasi yang merepresentasikan perusahaan-perusahaan, pekerja, dan agensi pemerintahan. Beberapa organisasi ini menggunakan tekanan untuk memberikan pengaruh terhadap arah perkembangan industri.
(4) Lingkungan pergaulan regional yang kekhususan geografis dan keadaan historisnya muncul sebagai bagian dalam hubungan terhadap fenomena yang terjadi pada poin 1, 2, dan 3, dan merupakan gudang dari sumber daya penting bagi industri. Jangkauannya dari Hollywood sebagai produsen lokal hingga sinergi potensial yang ditawarkan melalui kedekatan dengan wilayah dari industri produk budaya yang lain.
Empat poin ini mendasari kompleksitas produksi Hollywood, memberinya dengan menfaat kompetitif yang kuat dalam bentuk peningkatan modal sesuai skala, bidang, dan pengelompokan ekonomi yang positif. Manfaat seperti ini sangat fundamental dalam usaha mempertahankan status sebagai wilayah pusat yang memimpin produksi film di dunia sekarang (major, independent production companies, specialized service, dan supply firms). Disini juga terdapat elemen besar dari kerangka kerja organisasi geografis yang berfungsi sebagai tempat pembenihan kreatifitas dan inovasi bagi industri (lokal labour market). Seperti juga komplesitas regional, kerangka kerja ini juga mengalami kecenderungan periodik dalam konfigurasi yang terus diperbaiki; sepanjang sejarah, industri ini selalu diatur untuk menangani berbagai krisis penyesuaian diri yang seringkali muncul berdasarkan pergantian teknologi dasar dan kondisi pasar seperti penenemuan film bicara atau pengembangan teknologi digital baru (institutional environment). Selain itu, walaupun lokasi pusatnya ditarik ke Hollywood, arus perluasan aktivitas produksi telah bergerak menuju lokasi satelit sejak tahun 1980-an. Maksudnya, kebutuhan untuk mencari setting film telah membawa produksi Hollywood menjelajah dunia (misal ke Tokyo, Paris, Mesir, Mexico, atau Bali) (satellite production location). Distribusi merepresentasikan sebuah tahapan kritis pasca produksi. Tanpa distribusi yang efektif, sistem produksi tidak dapat mencapai skala atau cakupan yang membantu untuk membuatnya menjadi sebuah sumber manfaat kompetitif yang hebat.
Hollywood kini adalah bisnis skala besar, memiliki banyak sisi, memproduksi budaya, dan variasi produk tanpa henti untuk berbagai macam ceruk pasar yang berbeda (Scott, 2002)[8]. Dengan keseluruhan sistemnya dapat diidentifikasikan sebagai konsep tinggi, blockbuster yang menarik massa, yaitu film dengan budget besar sengan sebuah klimaks narasi yang sederhana, penyelesaian yang menyenangkan, kehadiran bintang film terkenal, dan memiliki banyak aset yang menjual. Contoh film-film blockbuster seperti Titanic, Dark Knight, Harry Potter, Pirates of The Carribean, dan Spiderman. Pasar bagi film ini sangat berisiko, dan konsep blockbucter seringakli berhadapan dengan prospek yang merugikan. Sebenarnya, hanya beberapa film saja yang bisa mengembalikan keuntungan dari hasil pertunjukkan langsung di bioskop. Untuk itu, studio besar sekarang juga meraup keuntungan besar melalui pengemasan kembali (repackaging) film dalam bentuk home video, lisensi penyiaran televisi, product placement dan produk sampingan seperti rekaman musik, games, mainan, fashion, buku, theme parks ride, dan sebagainya (Scott, 2002)[9].
Distribusi memegang peranan vital bagi bisnis film. Sistem distribusi akan menyebarkan film sebagai produksi industri ke pasar yang lebih luas, memompa pendapatan, dan informasi ke Hollywood, sehingga distribusi menjadi bagian yang penting dalam mejaga keberlangsungan ekonomi. Menurut Scott (2002) pemerkerjaan di bidang distribusi sebagai cabang bisnis di Los Angeles di seputar produksi Hollywood telah mencapai 22.399 orang dengan 299 bangunan. Bandingakan dengan keseluruhan AS yang hanya mencapai 27.669 orang dengan 702 bangunan. Pada tahun 1997, tingkat oligopoli distribusi dari empat perusahaan di bidang distribusii film telah mencapai 74.6%, sedangkan untuk produksi hanya sebesar 33.5% dan pasca produksi dan industri video lain sebesar 16.4%. Tingkat konsentrasi yang tinggi ini berasal dari skala ekonomi yang melekat pada aktivitas distribusi, terutama sebagai industri film, mereka berasumsi bahwa distribusi harus berbentuk jaringan ekstensif dengan manajemen pusat yang kuat dan kantor regional yang tersebar luas. Biaya produksi blockbuster, dengan logika intensitas tingginya, kejenuhan pasar dan distribusi, secara kuat mengintensifkan kecenderungan konsentrasi ini, terutama karena biaya pemasaran dan distribusi dari blockbuster sekarang sama atau bahkan lebih besar dari biaya produksinya (Cones, 1997)[10].
Globalisasi Hollywood
Setelah membicarakan mengenai kompleksitas produksi dan distribusi Hollywood serta konglomerasi raksasa media dengan skala global, perlu diperhatikan kemudian adalah terjadinya internasionalisasi industri –pertumbuhan ekspor film melewati negara asalnya (Lorensen, 2008). Ketika internasionalisasi menyediakan pasar yang luas bagi film dan sebab itu seharusnya menyediakan kemungkinan bagi perkembangan negara yang memproduksi film skala kecil, realitanya, abad terakhir dari internasionalisasi industri film hanyalah cerita dominasi dari sejumlah negara dalam pasar ekspor. Dalam hal ini, Hollywood justru menguasai dengan biaya yang sangat besar untuk pemasaran dan distribusi berskala besar, mengatasi keterasingan melalui keberadaan distribusi lokal dan kampanye pemasaran yang diadaptasi secara lokal pada sejumlah besar pasar ekspor, film dubbing, dan menciptakan preferansi kultural bagi gaya estetika dan narasi Hollywood , sebagaimana film berbahasa Inggris dibandingkan film asing lainnya (Hoskins dan Mirus, 1988).
Lorensen (2008) melihat fenomena globalisasi Hollywood ini dalam beberapa pandangan, yang sekaligus juga menjadi kesimpulan dari esai ini:
- Globalisasi keterlibatan dalam pembuatan/produksi film. Pembuatan film secara cepat menjadi sebuah aktivitas yang secara global terjadi dimana-mana, sebagaimana produksi film tumbuh di luar AS. Ini dijelaskan di atas melalui skema kompleksitas produksi dari Scott (2002) mengenai daerah satelit lokasi pembuatan film yang bisa tersebar di seluruh penjuru dunia.
- Globalisasi konsumsi. Ini terkait dengan meunculnya selera konsumsi global: tidak hanya pasar massa global yang semakin luas, produser film sekarang dapat pula meraih ceruk audiens di beberapa negara secara simultan. Ini berarti bahwa ekspor film telah bergani secara alamiah dari setapak demi setapak internasionalisasi dari produksi film bagi penonton domestik dan dirilis berikutnya dalam ranah yang lebih luas, menajdi fenomena global, dimana produk yang diproduksi untuk penonton global dirilis di banyak pasar nasional secara simultan. Selain itu, globalisasi konsumsi telah difasilitasi dengan distibusi dan bentuk pertunjukan yang dapat dijangkau oleh audiens di seluruh dunia (dalam bentuk satelit TV, DVD, Internet).
- Globalisasi organisasi. Hal yang paling mencolok dari fenomena ini adalah munculnya korporasi global. Seperti disebutkan di atas, sebagaimana perusahaan produen Hollywood menginternasionalisasikan operasinya, berintegrasi secara horizontal, dan terdiversifikasi ke dalam multi-media corporations, beberapa diantaranya bergabung dengan konglomerasi Prancis, Jepang, dan Autralia. Di banyak Negara, korporasi global ini hadir dengan distribusi dan pemasaran yang efisien, menawarkan produk global ke pasar lokal. Di sedikit Negara, mereka hadir dengan perusahaan produksi lokal (perusahaan film dan TV, rekaman, dan percetakan) dalam membiayai dan mendistribusikan produk lokal yang relative murah untuk pasar lokal. Dan terakhir, korporasi global juga dapat mengamati beberapa Negara untuk mencari produk dan talenta yang mungkijn bisa dikembangkan untuk memiliki potensi nilai jual global – contoh, melalui kerjasama produksi film berbudget tinggi dengan produsen lokal, dengan tujuan untuk mendistribusikannya secara global.
[1] Margaret Wyszomirski dalam Feigenbaum, Harvey B. (2001).
Globalization And Cultural Diplomacy. Center For Arts And Culture: The George Washington University. Hal. 13
[2] Lorenzen, Mark. (2008). “On the Globalization of the Film Industry”. Creative Encounters Working Paper #8. Copenhagen Business School: Copenhagen. Hal. 3
[3] Hoskins, C., & Mirus, R. (1988). “Reasons for U.S. dominance in the international trade in television programmes”. Media, Culture and Society #70, hal. 499-515.
[4] Scott, Allen J. (2002). “A New Map of Hollywood: The Production and Distribution of American Motion Pictures”. Regional Studies Vol. 36.9. Carfax Publishing: Los Angeles. Hal. 957–975
[5] Lorenzen, Op.cit
[6] Scott. Op.cit. hal. 961
[7] Litman B. R. (2001). “Motion picture entertainment”. dalam Adams W. and Brock J. (Eds) The Structure of American Industry, 10th edition, pp. 171–198. Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ.
[8] Scott, Op.cit. hal 968
[9] Scott, Op.cit. hal 969
[10] Cones J. W. (1997) The Feature Film Distribution Deal. Southern Illinois University Press, Carbondale and Edwardsville, IL.
mereka berujar