Kurasai kecupmu ketika aku masih menyempatkan hela terakhir
Dan rabaanmu di ari yang mengering masih terasa
Sementara hal-hal yang terasa janggal berkitaran di seputar kepalaku
Maka yang terdengar di telingaku hanya ngiangan isakmu
,”Apa kamu akan meninggalkanku?”

Bukan. Bukan itu yang mestinya kamu tanyakan.
Aku masih perlu mencari kepingan terakhir. Aku tak akan mati secepat ini.
Hanya saja sisa-sisa hidup yang terabaikan ini membuatku malu.
Dan kamu masih berdiri di situ, di belakang perempuanku yang terisak.
,”Apa lagi yang akan kamu perlihatkan?”

Ah, kamu menggamit lenganku seperti karib lama. Memang kita teman lama, bukan? Apa? Senyummu selalu tendensius, kamu tahu itu. Hmm, baiklah. Kuikuti kemana kamu pergi atau lebih tepatnya kemanapun kamu membawaku. Nanti akan kukasih jawaban yang sama seperti kemarin, haha.. Semoga kamu masih bisa bertahan dengan pria banalis sepertiku.

Ia masih menggamit tanganku, lembut dan mesra seperti kawan lama. Kami berjalan berlambat-lambat seperti tak pernah terburu dengan nafasku yang tinggal sepenggal. Aku tak begitu memperhatikan ceracaunya. Mungkin ia masih mencoba meyakinkanku seperti biasa. Aku tak bisa cukup mendengar dengan sakit yang menghujami punggungku. Ia menoleh sebentar ke arahku dan mulai mengusap pundakku dengan lembut. Ia tahu aku mulai tercekat demi melihat mukaku yang pucat. Sesak mulai berkuasa di rongga dadaku. Semua pemandangan terlihat kabur dan semakin kabur hingga memutih. Aku menggeram keras dengan tangan meremas dada kiri. Terlalu perih di sana. Kalaupun bisa, aku akan benamkan tanganku ke dalam dan sekalian merobek jantung. Bahkan aku yang sekarang terlalu lemah untuk sekedar berpikir hiperbol. Ini terlalu dekat. Terlalu kelam.

***

Hei. Hei. Lampunya terlalu terang. Aku naikkan tanganku sebatas mata untuk menghalau silau. Untuk beberapa detik, kubiarkan pupil bermekaran kembang kempis demi membuatnya nyaman dengan cahaya sekitar. Aku mulai bisa melihat samar-samar. Aku bisa mengenalinya sosok yang berdiri dalam jarak sosialku itu. Ia yang berdiri di depan sana, agak melenceng tiga puluh derajat dari tempatku berdiri. Itu kawan lamaku, yang kubilang tadi, setidaknya biar kusebut ia seperti itu.

Ia tersenyum ramah dan menghendakiku duduk sekenanya, dimanapun. Setidakya itu yang bisa kubaca dari gesturnya sementara telingaku tak bisa mendengar suaranya. Ini cukup membuatku salah tingkah. Sebentar berdiri, lalu duduk bersila, lalu jongkok, dan berdiri lagi. Aku cukup sibuk dengan tingkah anehku hingga kusadari ia sudah berdiri di belakangku. Digapainya pundakku dan menunjukkan sebuah kursi hitam dengan meja kecil putih. Eh? Bukannya ini kursi yang biasa kulihat di ruang kuliah. Sekali lagi, ia memintaku duduk dengan laku yang santun.

Aku mulai melangkah menuju kursi itu dan menunggju kejutan lain yang bisa dilakukan karibku itu. Benar saja, baru sebentar aku membalikkan punggung dan menunduk sekedar untuk memastikan kursi itu kokoh untuk kududuki, ruangan itu sudah berubah dengan meja di pojok kiri dan dua papn putih besar di dinding depan. Apa ini? Cih, akan kamu kuliahi aku? Ia menjawab dan aku masih tak bisa mendengar suaranya. Huh, tak perlu lah kau kuliahi aku dengan hal yang sama. Yang sejaka bertahun lalu terus kamu dengungkan di telingaku. Percuma! Aku tak bisa mendengarmu!

Ia berhenti bicara. Bibirnya mengatup dan mulai menghela napas. Ia menengadahkan mukanya dan membuka bibirnya lagi. “Sedang berbicara dengan siapa?” tanyaku.
“Kita hanya berdua saja. Kan kamu baru akan mulai menguliahiku tentang … Yah apapun lah yang ingin kamu katakan. Apa kamu sudah menyerah menghadapai pris kecil nan skeptis ini? Ayolah.. Aku memang tak bisa mendengarmu bicara. Tapi jangan menyerah begitulah. Ini jadi tidak menarik lagi kalau kamu menyerah.”

Ia masih berbicara entah dengan siapa. Akhirnya aku hanya bisa menunggunya, menggaruk kepala, melihat lanskap sekitar yang baru kusadari ternyata sebuah ruang tanpa batas. Sial, terperangkap dimana lagi aku.
“Hei! Baiklah aku akan memperhatikanmu. Walaupun kamu tahu aku tak bisa mendengarmu. Aku akan pura-pura saja kalau aku bisa mendengarmu. Ha? Bagaimana?”

Ia turunkan kepalanya dari menengadah dan berjalan menghampiriku. Nah, aku berhasil membuatnya mau berkisah. Tak apa aku akan pura-pura mendengar. Toh aku pernah menjadi konselor dengan teknik mendengar aktif. Aku cukup tahu bagaimana mengapresiasi orang yang sedang berbicara. Sekalian kupraktikkan ilmu ini untuk menjawab hipotesisku sendiri. Hipotesis konyol, apakah cara seperti ini juga berlaku untuk mahluk sepertinya.

Ia pandangiku lekat. Hei, kamu membuatku miris. Kenapa? Aku suka hitam, kupakai kaos hitam. Aku suka denim, kupakai denim belel favoritku dengan sobek menganga di kaki kiri. Ada yang salah? Ia menggeleng dan lagi-lagi tersenyum. Sial. Kenapa kamu suka sekali tersenyum sambil menoleh? Cih, tingkahmu itu persis seperti para aktor drama Korea yang berperan sok misterius tahu. Coba kamu manusia, pasti bisa kamu bikin perempuan sejagat menggilaimu. Sayangnya, bahkan kamu sendiri tak bisa menilai kelaminmu. Ya, sudahlah. Mari kuliahi aku.

***

Ia mendeham. Aku bisa mendengar bahkan hinggan dehamannya. Hei, aku bisa mendengarmu. Kutepuk pundaknya yang bersayap itu dan memberinya acungan jempol. Ia menuduk dalam dan, seperti biasa, tersenyum. Cih.

“Masih belum mengerti, kawan?” Katanya pelan.
“Apanya?”
“Biar kuperlihatkan sekali lagi padamu.”

Jadi dibawanya aku pergi. Aku tak benar-benar mengerti tentang apa yang ditanyakannya. Juga semua yang dibicarakannya sepanjang perjalanan. Aku tak mengerti. Atau lebih tepatnya aku sudah tak mau mengerti. Kenapa aku harus melakukan hal-hal yang kamu katakan? Toh tak melakukan hal-hal itu pun aku tak akan jadi orang jahat. Aku tak merugikan orang lain. Aku tak mendzalimi orang lain -kupakai bahasamu sekarang-. Aku tak membunuh orang. Aku tak membuat mereka di sekelilingku menanggung dosaku. Dan dengan perempuanku, kulakukan yang mesti kulakukan. Tak perlu lah itu apa yang kau sebut, bukannya itu cuma sebatas pelegalan atas hal yang Ia Besar larang. Apa bedanya? Toh aku menghidupinya. Aku tak buat hidupnya menderita. Dan lihatlah itu! Putri kecilku yang tumbuh montok dan riang mengitari bumi. Apa yang salah?

Kamu katakan Ia Besar menciptakan setiap mahluk untuk menyembah. Apa ia sangat kesepian? Sekesepian itu? Aku tak mau mengerti, kawan! Aku menjadi manusia, cukup! Aku tak memiliki intensi untuk berbuat munkar -kupakai lagi bahasamu-. Jadi untuk apa aku memerlukan ikatan dogmatis yang mereka bilang untuk mengikat manusia pada fitrahnya? Untuk menjaga setiap hal tetap suci dan baik? Cih! Aku tak mau mengerti, kawan!

***

Kenapa kamu perlihatkan Bundaku? Apa kamu memang ingin menggerus lagi kemarahanku pada Ia Besar? Aku masih tak terima ia diambil begitu saja. Kenapa ia tak mengambilnya lagi nanti? Nanti, ketika aku memang siap kehilangannya. Kamu tak tahu bagaimana aku harus hidup kemudian. Terasing, sendirian, dan tak peduli pada semuanya. Aku pantas marah!

Apa? Akan kau beri aku kesempatan untuk menjenguk Bundaku. Kenapa tak sekalian kamu matikan aku biar nanti aku tinggal disana dengannya?
“Untuk apa? Ia memberi kesempatan setiap orang untuk berubah. Untuk kembali pada ribaannya yang nyaman. Kamu masih bisa memperbaiki semuanya. Masih bisa membangun jalan bersama perempuan dan putri kecilmu itu. Kamu hanya perlu untuk mengerti.”

Aku belum sempat menyanggahnya ketika sebuah sentuhan di rahangku sangat sangat bisa kukenali. Itu Bunda, masih dengan senyumnya yang menawan. Masih seperti ketika semua orang memanggilnya Ibu Cantik. Masih dengan rona mukanya yang cerah. Masih dengan gaun panjang favoritnya dengan pola garis merah muda hitam berselang. Masih dengan liontin berwarna ungu yang menggantung di kalungnya.

Bunda mendekatkan dirinya padaku, menggapai pundakku, dan mulai membisikkan hal yang tak bisa kudengar. Aku tak bisa mendengarmu Bunda. Aku tak bisa mendengar apapun yang kamu katakan. Kenapa aku tak bisa mendengarmu Bunda? Aku tak bisa mendengarmu! Aku tundukkan kepalaku dan membenamkannya di pelukan Bundaku. Aku biarkan air mataku meleleh sejadi-jadinya. Sial. Kenapa aku malah sesenggukkan seperti bocah kecil begini? Tapi aku memang tak bisa mendengarmu.

“Kamu tak mendengarnya? Kamu juga tak mendengarkanku sebelumnya. Aku masih ingat bagaimana kamu bermain pura-pura mendengar.” kawanku mulai bersuara.
“Kenapa aku tak mendengarmu? Kenapa aku tak bisa mendengar Bundaku?”
“Kami mengatakan hal sama. Hal yang tak pernah mau kamu dengar. Tak pernah mau kamu mengerti.”

Aku cerna baik-baik kata-katanya dan mencoba mendalami pemikiran picikku lagi. Kuangkat kepalaku dari pelukan Bunda dan menghapusi sisa lelehan yang membuat wajahku persis seperti bocah ingusan yang terobsesi permen. Bunda tegakkan kepalaku dan aku bisa membaca wajahnya. Aku bisa mendengar sedikit suara. Apa? Masih belum jelas. Aku dekatkan lagi diriku padanya dan membiarkan telingaku tinggal seinci dari bibirnya. Aku masih tak bisa mendengar jelas. Aku bisa menangkap sepatah, sepatah lagi, dan kupahami seperti ini.
“Setelah ini, aku mau kamu belajar untuk mengerti. Bukannya pria kecil Bunda ini suka sekali belajar. Belajar apa saja. Kamu bisa belajar dari perempuanmu. Belajar juga untuk mengerti kenapa Ia Besar perlu ditemani. Belajar juga untuk membuat dirimu tak lagi kesepian karena keberadaannya.”

Aku kembali sesenggukan. Merasai punggung yang lemah dan aku harus menopangkannya pada kakiku yang gemetaran. Aku tegakkan diriku sebisanya. Mencoba membantahnya untuk mengatakan tidak tentang satu hal ini. Tapi terlalu bodoh mengatakanya di depan Bundaku.
“Mau kau lakukan itu untukku?”
“Kenapa? Untuk apa?”
“Untuk menghilangkan marahmu pada Ia Besar. Lihat dirimu sekarang. Bunda tak pernah membayangkan kamu akan sekuat ini. Jauh di luar yang Bunda harapkan. Kamu ditanami kelebihan dan itu telah berkembang dengan baik. Kamu hanya perlu menambahkan..”
“Apa Bunda? Aku tak bisa mendengarmu lagi!”

***

Senang melihat senyummu lagi. Terlalu melegakan bisa menghabiskan yang tersisa denganmu. Apa di luar hujan? Ya, semoga mereka tak menghentikannya segera. Bisa kamu bantu aku ke dekat jendela? Aku ingin melihat hujan dan genangannya di tanah. Coba buka sedikit tirainya biar bisa kurasakan percikan burai hujan di wajahku. Apa? Tidak. Jangan khawatir. Aku sudah cukup sehat untuk menimati sedikit hujan. Lagipula kamu tahu aku keras kepala. Iya, kan?

Masih seperti dulu kan, Jingga? Hujan, tenang, dan kamu melingkarkan tanganmu di leherku. Aku akan katakan sesuatu padamu. Kamu akan mendengarnya, iya kan? Kau tahu? Aku masih terus belajar untuk mempertahankan skeptisme yang kupunyai sejak menjadi pria dewasa adalah keharusan. Namun, kadangkal ia terlalu picik dan berbahaya. Itu karena ia akan memberikanmu semacam sekat yang memisahkan realitas iamaji dalam demografi yang terlalu maya. Untuk itu, aku perlu belajar. Belajar tentang hal yang telah lama tak mau aku mengerti. Biar kemudian aku mengerti dan menjadi pria yang baik untukmu. Bantulah aku agar mengerti.

“Tentang apa, Mas?” itu tanyamu. Selalu dengan diiringi nada yang manis dan lugu.
“Iman. Iman adalah hal yang belum benar-benar bisa kumengerti..”

I don’t know where I crossed the line
Was it something that I said
Or didn’t say this time
And I don’t know if it’s me or you
But I can see the skies are changing
In all the shades of blue
And I don’t know which way it’s gonna go

If it’s gonna be a rainy day
There’s nothing we can do to make it change
We can pray for sunny weather
But that won’t stop the rain
Feeling like you got no place to run
I can be your shelter ’til it’s done
We can make this last forever
So please don’t stop the rain

(Let it fall, let it fall, let it fall)
Please don’t stop the rain
(Let it fall, let it fall, let it fall)
Please don’t stop the rain

I thought that time was on our side
I’ve put in far too many years
To let this pass us by
You see life is a crazy thing
There’ll be good time and there’ll be bad times
And everything in between
And I don’t know which way it’s gonna go

If it’s gonna be a rainy day
There’s nothing we can do to make it change
We can pray for sunny weather
But that won’t stop the rain
Feeling like you got no place to run
[ James Morrison Lyrics are found on www.songlyrics.com ]
I can be your shelter ’til it’s done
We can make this last forever
So please don’t stop the rain

(Let it fall, let it fall, let it fall)
Please don’t stop the rain
(Let it fall, let it fall, let it fall)
Please don’t stop the rain

Oh …
And finally what life’s it’s all about
Yeah I know you just can’t stand it
When things don’t go your way
But we’ve got no control over what happens anyway

If it’s gonna be a rainy day
There’s nothing we can do to make it change
We can pray for sunny weather
But that won’t stop the rain
Feeling like you got no place to run
I can be your shelter ’til it’s done
We can make this last forever
So please don’t stop the rain

(Let it fall, let it fall, let it fall)
Please don’t stop the rain
(Let it fall, let it fall, let it fall)
Please don’t stop the rain

(Let it fall, let it fall, let it fall)
Can’t stop it, can’t stop it, just can’t stop the rain
(Let it fall, let it fall, let it fall)
Let it fall, please don’t stop the rain

Download James Morrison – Please Don’t Stop The Rain here!

I found God
On the corner of First and Amistad
Where the west
Was all but won
All alone
Smoking his last cigarette
I said, “Where you been?”
He said, “Ask anything”.

Where were you
When everything was falling apart?
All my days
Were spent by the telephone
It never rang
And all I needed was a call
It never came
To the corner of First and Amistad

Lost and insecure
You found me, you found me
Lyin’ on the floor
Surrounded, surrounded
Why’d you have to wait?
Where were you? Where were you?
Just a little late
You found me, you found me

In the end
Everyone ends up alone
Losing her
The only one who’s ever known
Who I am
Who I’m not, who I wanna be
No way to know
How long she will be next to me
[ The Fray Lyrics are found on www.songlyrics.com ]

Lost and insecure
You found me, you found me
Lyin’ on the floor
Surrounded, surrounded
Why’d you have to wait?
Where were you? Where were you?
Just a little late
You found me, you found me

Early morning
The city breaks
I’ve been callin’
For years and years and years and years
And you never left me no messages
Ya never send me no letters
You got some kinda nerve
Taking all my world

Lost and insecure
You found me, you found me
Lyin’ on the floor
Where were you? Where were you?
Lost and insecure
You found me, you found me
Lyin’ on the floor
Surrounded, surrounded
Why’d you have to wait?
Where were you? Where were you?
Just a little late
You found me, you found me
Why’d you have to wait?
To find me, to find me

Download The Fray – You Found Me here!

Oh, gosh! Lelah rasanya liat lembaran di koran tempat promosi film dan hanya untuk mendapati film-film horor terbaru dari Indonesia with their hotest moron, si “double S” itu. Film-film low budget dengan low brow content ini memang raja di industri film sekarang. Ya, sudahlah. Saya bukan pengkritik film yang baik, tapi paling tidak saya tahu mana film yang layak ditonton (like this!). Nah, saya mau cerita betapa excited-nya saya menunggu bulan Agustus. Kenapa? Karena ada dua film Indonesia yang saya tunggu-tunggu. And here they are: Merantau and Merah Putih.

Pertama, Merantau. Film ini bisa dibilang mengisi slot kosong film laga Indonesia yang makin hampa di dekade terakhir. Mengusung silat harimau sebagai landasan gerak laganya, film ini bercerita tentang tradisi Minang yang mengharuskan seorang anak yang beranjak dewasa untuk merantau. Dengan bintang utamanya yang memang atlet silat, Ikko Wais, film ini menjanjikan adegan laga yang seru (terlepas dari banyak adegan yang lebih mirip Jackie Chan daripada silat). Setidaknya itu yang saya liat di trailer film ini yang banyak beredar di Youtube. Kalau perlu tonton sekalian aja proses produksinya, ada enam atau tujuh scene gitu.. Nah, bagusnya lagi film yang disutradarai Gareth Huw Evans ini punya tujuan untuk memperkenalkan silat Indonesia ke dunia global. Nice work then!

Merantau

Merantau (Rilis 6 Agustus 2009)

Yang kedua, Merah Putih. Haduh, yang ini saya ketinggalan berita banget deh. Film trilogi yang budgetnya 60 Milyar ini sudah ramai dibicarakan dari bulan April kemarin. Maap deh, abis yang ini promosinya ngga massive si, atau mungkin sengaja ditahan-tahan dulu. Ya, film ini memang tercatat sebagai film paling mahal di Indonesia. Maklumlah, pembuatannya memakai standar Hollywood dengan tim dari Hollywood juga. Para pemainnya antara lain Lukman Sardi, Darius Sinathrya, Teuku Rifnu Wikana, Doni Alamsyah, Zumi Zola, Atiqah Hasihlan, dan Saraswati.Yang pasti, film mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia ini menjanjikan tontonan yang akan menggugah rasa nasionalisme kita. Merdeka!

Ini nih yang bikin saya penasaran dari film ini, sekeren apa yah film ini? Abisnya kalau liat kru Hollywoodnya ngga nahan, cuy.. Beberapa diantaranya ahli efek khusus (special effects) dan veteran perfilman Hollywood yakni Koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth (Saving Private Ryan, Blackhawk Down), Koordinator pemeran pengganti (stunt) Rocky McDonald (Mission Impossible II, The Quiet American). Make-up dan visual effects oleh Rob Trenton (The Dark Knight), Konsultan ahli persenjataan adalah John Bowring (Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins:Wolverine) dan Asisten Sutradara adalah Mark Knight (December Boys, Beautiful). Bahkan kru The Darknight yang ada di film in iadalah orang yang bikin make up untuk Joker (Weeew!). Belum lagi yang dari Saving Private Ryan, ini film menang Oscar gitu! Premier 13 Agustus 2009. Okay, let’s wait and see!

The Cast

The Cast


Oke nyanyi lagi hayuk.. Yang ini lagu manis dari film Cars (2006), keluar di ending film yang khas Pixar banget ini: lucu dan banyak pesan moral. Let’s check it out..

Find Yourself – Brad Paisley (Ost. Cars)

When you find yourself in some far off place
and it causes you to rethink some things
You start to sense that slowly you’re becoming someone else
And then you find yourself…
When you make new friends in a brand new town
and you start to think about settling down
The things that would have been lost on you
are now clear as a bell
And you find yourself,
yeah thats when you find yourself
Well you go through life
so sure of where you’re headed
And you wind up lost
and its the best thing that could have happened
Cause sometimes when you lose your way, its really just as well
because you find yourself,
yeah that’s when you find yourself.
When you meet the one, that you’ve been waiting for
and she’s everything, that you want and more
You look at her and you finally start to live for someone else
And then you find yourself,
yeah that’s when you find yourself
Well you go through life
so sure of where we’re headed
And you wind up lost
and its the best thing that could have happened
Cause sometimes when you lose your way, its really just as well
Because you find yourself,
Yeah thats when you find yourself.

Download Find Yourself – Brad Paisley here!

Saya lagi seneng ngomongin TV digital ni hehe, ini pembahasan lainnya karena yang kemarin saya tulis kok perfect banget, hampir tanpa cela. Maksudnya, ada kesan TV digital tidak ada kelemahannya. Saya coba cari tapi rata-rata artikel dalam negeri dan jurnal-jurnal internasional jarang yang membahas kelemahan TV digital. Akhirnya, setelah sekian lama (pake nada Ridho Rhoma haha) saya ketemu juga artikel yang membahas hal ini. Tapi, banyak hal yang bisa diperdebatkan dari artikel itu. Gini nih ceritanya:

Jadi waktu kemarin pulang ke Jogja, tepatnya waktu lagi nunggu antrian buat servis motor si Adek yang udah batuk-batuk mulu saya coba nyari bacaan. Nah, kebetulan saya menemukan artikel berjudul “Sugeng Rawuh TV Digital” di Kedaulatan Rakyat yang ditulis sama Wing Wahyu Winarno. Dari artikel panjang itu, bagian terakhirnya yang paling menarik perhatian. Baca dulu ya..

TV Digital juga memiliki kelemahan. Pertama, pesawat TV analog yang sekarang ini ada di dalam setiap rumah keluarga, tidak dapat menerima siaran TV digital. Kelemahan ini dapat diatasi dengan membeli konverter yang disebut dengan set-top box (STB) dan saat ini harganya masih sekitar Rp 400.000-an. Namun dalam waktu yang tidak terlalu lama, pasti akan turun ke kisaran Rp 150.000-an, atau malah lebih rendah lagi. Kedua, siaran TV digital dapat dilakukan secara interaktif, berarti kegiatan penonton dapat dipantau atau diikuti. Berapa jam TV dinyalakan, saluran mana saja yang sering ditonton atau tidak pernah ditonton, acara apa saja yang paling diminati, dan seterusnya. Di satu sisi ini akan menguntungkan pihak pemancar televisi karena dapat memilih program-program yang sesuai dengan selera pemirsa, tetapi di sisi lain, konsumen sangat mudah dikontrol oleh oleh pihak stasiun televisi. Sebagai contoh, ada kemungkinan stasiun televisi akan menyelenggarakan siaran berbayar dan pembayaran dilakukan dengan mudah, misalnya melalui SMS, ATM, atau Internet banking. Ketiga, karena kualitas siaran televisi jauh lebih baik dan lebih dinamis, misalnya dapat diprogram untuk direkam pada acara-acara tertentu, maka akan semakin banyak anggota keluarga yang menonton televisi. Ini akan menjadi perdebatan panjang di dalam masyarakat dan tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang menyarankan agar menonton televisi pun suatu hari akan diharamkan. 

Nah bagian ini nih yang bikin saya gatel pengen berkomentar. Pertama, kalau dibilang televisi analog di rumah sekarang tidak bisa dipakai untuk menerima siaran digital itu kurang tepat. Bukan pesawat televisinya yang salah, tapi antena penerima transmisinya yang tidak bisa menerima gelombang siaran. Tapi, hal ini bisa diatasi dengan menyambungkan kabel antena analog biasa ke set top box alias dekoder, baru ke televisi. Cara ini bisa digunakan karena memang siaran televisi digital akan dilakukan pake cara free to air terestrial. Nah, kalau dibilang membeli dekoder yang 400ribu itu kelemahan juga jayanya kurang tepat. Masa migrasi atau transisi analog ke digital masih akan makan waktu lama hingga 2018. Masa selama itu akan berdampak pada penurunan harga dekoder jika dikaitkan dengan masalah ketersediaan dekoder yang akan makin banyak . Malahan tren integrasi dekoder ke dalam pesawat televisi yang diramalkan akan terjadi juga akan menekan harga jual dekoder ini hingga tidak memberatkan masyarakat.

Yang kedua, keberadaan TV digital ini dijamin dengan peraturan menteri terkait agar dilengkapi sarana pengukuran rating. Ini justru langkah penting untuk mengurangi ketergantungan industri pertelevisian terhadap surveyor atau lembaga rating asing yang selama ini hasilnya selalu dipertanyakan kebenarannya. Dengan ini juga, masyarakat dimungkinkan untuk melihat sendiri bagaimana rating televisi sebenarnya. Masalah apakah nanti pihak stasiun TV akan makin mudah mengontrol pemirsa untuk (katakanlah)  membayar tayangan yang mereka tonton, saya kira akan menimbulkan perdebatan tersendiri. Tapi intinya, kalau ini terjadi justru masyarakat sebagai konsumen dapat menuntut konten tayangan yang benar-benar baik dan benar-benar mereka butuhkan. Tidak semata-sama terus dicekoki dengan tayangan pilihan sepihak dari stasiun televisi dan parahnya terus-menerus dianggap sebagai penonton yang tidak cerdas. Analoginya,  orang-orang belakangan lebih memilih mengeluarkan anggaran tambahan untuk berlangganan pay TV  karena mereka mendapatkan tayangan bermutu yang mereka inginkan. So, saya kira orang-orang tidak akan keberatan untuk membayar siaran televisi yang mereka nikmati asal kontennya juga menarik dan sehat, tidak sekedar karena urusan teknis tayangan yang lebih baik.

 

Andy Noya - Kick Andy

Acara televisi terbaik Indonesia

 

Yang ketiga, yang paling ajaib, mungkin nonton TV bisa jadi haram (silakan teriakkan ekspresi anda se-lebay mungkin). Saya setuju ketika Mas Wing menulis bahwa kuaitas siaran TV yang makin baik dan dinamis akan berdampak pada semakin banyaknya anggota keluarga yang menonton TV. Saya kira Mas Wing menempatkan kekhawatiran akan terjadinya anggota keluarga menonton tayangan televisi yang tidak sehat secara berlebihan. Tapi, saya lebih suka kalau hal ini ditanggapi dengan sikap yang lebih optimistis. Kalau kita mau melihat sekarang acara televisi kita dipenuhi oleh tayangan yang kata Ustadz merusak akhlak dan lain-lain, kita harus optimis digitalisasi siaran juga mampu meredam efek buruk tersebut. Di tulisan sebelumnya, saya katakan bahwa dengan digitalisasi siaran akan memungkinkan terjadinya efisiensi kanal. Secara teknis, satu kanal siaran akan mampu dgunakan untuk enam hingga delapan saluran acara televisi yang berbeda. Proses efisiensi yang nanti terjadi seiring dengan proses migrasi siaran digital ini akan berdampak pada berkembangnya industri pertelevisian dengan lahirnya banyak stasiun televisi baru untuk mengisi slot kosong di kanal-kanal yang tersedia. Ini juga berarti masyarakat akan makin punya banyak pilihan tontonan. Sementara industri televisi yang makin ketat akan menimbulkan persaingan yang makin kompetitif untuk meraih pemirsa. Kalau kita beralih pada mazhab laizez faire alias pasar bebas (karena nyatanya pertelevisian Indonesia termasuk yang paling liberal di dunia), kompetisi ini akan membiarkan audiens memilih sendiri mana tayangan yang baik dan layak untuk mereka tonton. Intinya, orang akan dibiarkan untuk menilai, yang baik bertahan yang buruk akan ditinggalkan. Mau tidak mau, stasiun televisi harus berlomba untuk membuat tayangan yang berkualitas untuk menarik pemirsa.

Satu hal lagi yang penting, digitalisasi siaran juga akan membantu masyarakat untuk kembali berdaulat pada frekuensi siaran yang ada sekaligus menghentikan penjajahan televisi nasional terhadap kebutuhan informasi masyarakat daerah. Banyaknya saluran yang ada akan memicu pertumbuhan televisi lokal yang notabene lebih mampu mengakomodasi kebutuhan informasi di daerah tersebut. Terlebih karena kedekatan emosional, TV lokal juga kan lebih mudah dikontrol oleh masyarakat (ada fungsi surveillance), terutama dari segi kualitas tayangannya. Atau kalau saya sangkutkan dengan apa kata dosen saya, digitalisasi siaran ini akan kembali menghidupkan secercah harapan akan terwujudnya desentralisasi siaran. Huaaah keren, like this.. haha

Hehehe lirik-lirik kembali lagi.. Yang ini gara-gara tengah malem ga ada kerjaan yang bikin gw mau-maunya nonton Hellboy 2 berkali-kali dalam satu malam, hiks.. Lagu ini keluar pas adegan ajaib Red sama Blue (Ibrahim) lagi sama-sama mellow (yang gw yakin adegan ini dikomersialisasi abis2an karena ada product placement-nya). But anyhow, cukup sukses bikin ketagihan siul-siul can’t smile without you hehe.. Yo, tangan di atas…

Can’t Smile Without You
(Barry Manilow)

You know I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile without you

You came along just like a song
And brightened my day
Who would have believed that you were part of a dream
Now it all SEMS light years away

And now you know I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile

Now some people say happiness takes so very long to find
Well, I’m finding it hard leaving your love behind me

And you see I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel glad when you’re glad
I feel sad when you’re sad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile without you

Download Can’t Smile Without You – Barry Manilow here!

Format Perpolitikan Indonesia

Menilik pada konstitusi Indonesia yang mengatasanamakan kedaulatan rakyat sebagai kekuasaan tertinggi, dapat dipastikan bahwa format demokrasi adalah landasan kegiatan politik di Indonesia. Sistem demokrasi ini selalu memberi tekanan mengenai keharusan adanya kebebasan pers (freedom of the press) dan berbicara (freedom of the speech), serta menyatakan pendapat (freedom of expression) (Nasution, 1990)[1]. Dengan demikian, masyarakat dapat melakukan pengawasan terhadap pemerintah yang sedang menjalankan amanat rakyat dan memberi masukan yang mereka anggap perlu.

Davison (1965) dalam Nasution (1990)[2] menjelaskan bahwa idealnya terdapat karakteristik dari demokrasi yang tergantung pada adanya akses yang bebas bagi masyarakat terhadap saluran komunikasi, baik sebagai sumber maupun khalayak, sebagai berikut: Pertama, kompetisi yang bersifat non-kekerasan (non-violence competition) diantara kekuatan politik dalam suatu bangsa, dan adanya mekanisme yang teratur untuk peralihan kekuasaan dari satu kelompok ke kelompok lain. Kedua, kemampuan dari mereka yang berada di luar pemerintahan untuk mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintah. Ketiga, pemerintah yang lebih mengandalkan persuasi dan bukannya pada kekuatan  untuk mencapai tujuan kebijakan-kebijakan dalam negeri.

Pertanyaannya adalah apakah selama ini demokrasi yang secara terang terpatri dalam konstitusi tersebut benar-benar berjalan secara ideal dalam format perpolitikan Indonesia? Ataukah muncul format perpolitikan lain yang berlindung di balik makna demokrasi? Denny JA memberikan sebuah contoh yang menarik dalam tulisannya yang berjudul “Mengawali Agenda Perubahan” di Harian Kompas edisi hari Kamis, 1 Agustus 1996, mengenai format politik di masa Orde Baru. Denny dalam hal ini mengacu pada pendapat Harold Crouch yang mengatakan bahwa pada masa tersebut, format politik Indonesia memiliki elemen neo patrimonialisme[3]. Dalam format ini,  stabilitas sistem terjaga bukan karena sistem ini rasional, efisien dan adil, tapi karena kemampuan sang pemimpin untuk merekatkan berbagai kelompok kepentingan di sekitarnya melalui distribusi pemenuhan kepentingan berbagai kelompok kepentingan itu yang terselenggara dengan baik. Format ini selalui ditandai oleh personalism, yaitu besarnya peran dan kewibawaan pemimpin untuk mendistribusikan benefit dalam rangka mendapatkan loyalitas politik.

Format neo patrimonialisme[4] sendiri akan berjalan baik apabila memenuhi dua syarat utama, yaitu adanya keseragaman pandangan politik dan ideologi di kalangan elit dan kekuatan utama dan depolitisasi massa, dimana massa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan (Denny, 1996)[5]. Selama Orde Baru, proses homogenisasi elit dan depolitisasi massa ini berhasil karena ditopang kesuksesan pembangunan ekonomi. Keberhasilan ekonomi ini memudahkan pemimpin untuk mendistribusikan benefit ke aktor politik utama berupa reward ekonomi maupun jabatan strategis. Konsep ini kemudian lebih dikenal dengan kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN).

Menapak ke masa Reformasi, tatanan mapan dari format neo patrimonial pun seketika runtuh. Sayangnya meskipun amanat demokrasi ideal (seperti terselenggaranya Pemilu sebagai alat peralihan kekuasaan yang teratur (1999, 2004, dan 2009) dan kebebasan pers, berpendapat, serta berekspresi sudah terlaksana) sudah dilaksanakan, Indonesia sepertinya belum menemukan format perpolitikan yang sesuai. Yang muncul justru format yang serba tanggung dan canggung. Dikatakan tanggung dan canggung karena selain tidak menegaskan bagaimana format perpolitikan Indonesia yang ingin dicapai, para aktor politik baik media maupun politisi justru sibuk menjalin hubungan dengan kepentingannya masing-masing.

Mengenai tarik ulur kepentingan media dan aktor politik dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, bagi aktor politik, publisitas dan profil adalah bahan bakar untuk meraih kesuksesan (Louw, 2005)[6]. Ini terjadi karena adanya komersialisasi berita politik yang secara dramatis meningkatkan permintaan terhadap cerita politik yang telah diolah sedemikian rupa dimana aktor politik ditempatkan dengan baik. Bisa ditebak kemudian popularitas yang diraih melalui publisitas medialah yang akan memenangkan aktor politik tersebut dalam pemilihan umum. Secara umum pada hampir semua pemberitaan mengenai Pemilu Legislatif yang lalu, media di Indonesia menyebut hal ini sebagai kemenangan popular vote. Kedua, masih menurut Louw (2005)[7], kekuatan jurnalis (media) dalam mempengaruhi proses politik didapat bukan dengan menjadi watchdog (pengawas), tapi dari fakta bahwa aktor politik membutuhkan media.

Dua penyataan dari Louw tadi memang seakan membuat media memiliki kekuatan yang besar dalam mempengaruhi orang untuk membuat sebuah pilihan politik. Namun patut diperhatikan, bahasan Louw lebih menekankan media sebagai industri yang mencari keuntungan komersial bukan sebagai media yang idealis. Maka, efektifitas hubungan antara aktor politik dan media dalam mempengaruhi preferensi masyarakat pun kemudian dapat dipertanyakan. Cattelani (1996)[8] menyatakan bahwa media hanyalah salah satu perangkat yang berkaitan dalam political interest seseorang yang berfungsi memberikan pengetahuan mengenai peristiwa politik yang terjadi pada saat itu dan masih dibutuhkan faktor-faktor lain untuk mencapai tahap political activity.

Ditambahkan oleh Hamad (2004)[9], fungsi media umumnya cenderung bersifat merangsang pengetahuan (kognisi) dan atau memperkuat sikap yang telah ada (recognition); selanjutnya untuk menciptakan rasa suka (afeksi) dan perilaku (konasi) harus didukung oleh komunikasi secara personal. Jadi bisa dikatakan, kesibukan para aktor politik di Indonesia yang berpikir bahwa hanya dengan meraih popularitas lewat media mereka bisa mendapatkan kesuksesan di Pemilu -padahal sejatinya media hanyalah salah satu faktor penentu pilihan politik individu- dan kepentingan komersil media telah membuat dua elemen penting demokrasi ini melupakan fungsinya sebagai pembentuk format perpolitikan yang menjadi dasar legitimasi kegiatan politik di Indonesia.

Di ranah inilah, media yang otonom dalam kerangka kebebasan pers memainkan peran penting dalam memberikan penegasan mengenai format politik apa yang sebenarnya coba dibangun. Lebih lanjut, dengan  sistem media yang otonom maka proses komunikasi yang tertutup di kalangan birokrat ataupun kelompok kepentingan dan partai politik dapat dipantau melalui pemberitaan media. Peran media ini ditunjang oleh adanya kebutuhan akan interaksi yang konstan antara lembaga-lembaga politik dengan para pemimpin di satu pihak dan dengan komponen sosial yang lebih luas di lain pihak[10]. Selain itu, adanya pengakuan bahwa media massa dapat berperan lebih dari sekedar menyanpaikan informasi politik, yang juga berarti bahwa media massa dapat dibuktikan mempunyai efek politik dalam suatu kelangsungan sistem politik suatu masyarakat, membuat analisis mengenai bagaimana fungsi media (komunikasi) dalam sebuah sistem politik menjadi hal yang esensial untuk menentukan seperti apa format politik yang sedang dibangun di suatu masyarakat (Nasution, 1990)[11].

Pada tulisan ini saya mencoba melakukan analisis framing terhadap pemberitaan Majalah Tempo mengenai Capres-Cawapres, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, untuk kemudian mengambil kesimpulan mengenai format politik seperti apakah yang coba ditegaskan oleh Tempo. Penulis memilih Majalah Tempo karena menganggap majalah ini cukup konsisten dalam usahanya menjadi media otonom di dalam demokrasi Indonesia. Sebagai awalan, penulis memfokuskan pada bagian Opini Majalah Tempo yang menyatakan bahwa terpilihnya Boediono sebagai cawapres SBY sebagai bentuk penghargaan terhadap meritokrasi. Pembahasan framing artikel-artikel berikutnya pada edisi yang sama, edisi 18-24 Mei yang bertajuk Plus-Minus Boediono, digunakan untuk mencari penegasan mengenai format meritokrasi yang telah diungkapkan di bagian Opini Majalah Tempo.

Framing Majalah Tempo Terhadap Boediono; Penegasan Format Politik Meritokrasi

Seperti telah dijelaskan di atas, saya mencoba melakukan analisis framing terhadap pemberitaan Majalah Tempo mengenai Capres-Cawapres, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, untuk kemudian mengambil kesimpulan mengenai format politik seperti apakah yang coba ditegaskan oleh Tempo. Tempo sendiri mengungkapkan bahwa terpilihnya Boediono sebagai cawapres SBY merupakan bentuk penghargaan terhadap meritokrasi. Meritokrasi sendiri merujuk pada suatu bentuk sistem politik yang memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau berkemampuan. Sistem ini kerap dianggap sebagai suatu sistem masyarakat yang sangat adil dengan memberikan tempat kepada mereka yang berprestasi untuk duduk sebagai pemimpin. Analisis ini dilakukan untuk menegaskan pernyataan Nasution (1990) bahwa analisis mengenai bagaimana fungsi media (termasuk melakukan framing terhadap peristiwa politik) dalam sebuah sistem politik menjadi hal yang esensial untuk menentukan seperti apa format politik yang sedang dibangun di suatu masyarakat.

Pada analisis framing ini saya memilih menggunakan metode framing dari Entman (1993)[12] yang melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/isu. Penonjolan sendiri dimaksudkan sebagai proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti, atau diingat oleh khalayak. Seleksi isu lebih menekankan pada aspek yang berhubungan dengan pemilihan fakta dimana dari proses ini akan diputuskan mana bagian berita yang dimasukan dan mana yang dikeluarkan. Sementara penonjolan aspek tertentu dari isu berhubungan dengan penulisan fakta yang berkaitan dengan pemakaian kata, gambar, dan citra tertentu. Tahapan analisis framing Entmant ini dilakukan dengan melakukan beberapa tahapan, yaitu: (1) define problem (pendefinisian masalah), (2) diagnose cause (memperkirakan masalah atau sumber masalah), (3) make moral judgement (membuat keputusan moral), (4) treatment recommendation (menekankan penyelesaian)

Berikut analisis framing pada artikel-artikel di Majalah Tempo 18-24 Mei yang bertajuk Plus-Minus Boediono mengenai pasangan Capres-Cawapres, SBY-Boediono[13]:

    1. Problem Identification (Define Problem)

Majalah Tempo mengidentifikasi pemberitan pasangan SBY-Boediono ini dalam kerangka politik. Ini dibuktikan dengan masuknya artikel-artikel tenatng pasangan ini ke dalam rubrik politik dengan tajuk Liputan Khusus SBY-Boediono. Selebihnya dapat dilihat di tabel bahwa kebanyakan bahasan framing tentang pasangan ini, khususnya polemik pemilihan Boediono sebagai cawapres, selalu dikaitkan dengan dinamika perpolitikan seperti koalisi dan resistensi di DPR.

Judul

Isi Berita/Wawancara

Sumber Berita

“Plus-Minus Budiono” Pemilihan Boediono oleh SBY mengindikasikan peletakan pertimbangan kualitas dan prestasi seseorang di atas kepentingan membangun koalisi. Ini merupakan penghargaan terhadap meritokrasi. Juga ditulis keberhasilan dan kemapuan Boediono di bidang moneter dan menaklukkan inflasi Opini Redaksi
“Panggung Kecil Untuk Orang Besar”

Proses pemilihan Boediono sebagai cawapres pendamping SBY yang melalui riset  dan penilaian integritas, loyalitas, kapabilitas, akseptabilitas, dan kemampuan membangun koalisi.

Rizal Mallareng, Hatta Rajasa (Mensesneg), M. Nuh (Menkominfo), Hilmu Aminudin (Ketua Majelis Syura PKS), Heru Lelono (Staff khusus Presiden), Kuskridho Ambardi (Direktur Riset LSI), Boediono (Cawapres)
“Boediono No, Delapan Kursi Yes”

Kekecewaan sejumlah partai anggota koalisi karena kadernya tidak terpilih sebagai cawapres dan penolakan atas keterpilihan Boedono sebagai cawapres

Muhammad Najib (FPAN), Ahmad Farhan Hamid (FPAN), Tjatur Sapto Adi (FPAN), Suripto (PKS), Mardani (FPKS), Tifatul Sembiring (Presiden PKS)
“Jalan Lurus Pak Boed” Profil perjalanan hidup dan karier Boediono serta pencitraan pribadinya yang sedehana dan selalu hemat

Agam Embun Surapati (Staff khusus Menteri Koordinator Perekonomian), Boediono (Cawapres)
“Saya Tidak Bercita-cita Menjadi Kaya”

Jawaban Boediono mengenai kemungkinan resistesi di DPR, isu agen neoliberalisme, dan kebijakan perekonomian Indonesia berikutnya

Boediono (Cawapres)
    2. Causal Interpretation (diagnose cause)

Polemik dan resistensi yang berkembang dalam pengambilan keputusan oleh SBY untuk memilih Boediono dapat dianggap sebagai bahan utama pembahasan dalam liputan khusus tersebut. Sejumlah partai anggota koalisi pun mengungkapakn kekecewaannya karena kadernya tidak terpilih sebagai cawapres. Lebih dari itu mereka beranggapan bahwa:

“Boediono dinilai tidak mewakili pakem koalisi Jawa-Non Jawa dan Nasionalis-Agamis…SBY dan Budiono sama-sama Jawa dan sama-sama nasionalis. Budiono dinilai tidak punya basis dukungan politik.”

    3. Moral Evaluation

Penilaian yang dilakukan oleh Majalah Tempo terhadap Boediono dapat dikatakan positif dengan berulang kali muncul pembahasan mengenai prestasi dan kemampuan Boediono dalam hal pereko- nomian maupun pola kehidupannya yang sederhana, cendekia, dan tidak memiliki kepentingan.

“Budiono yang dikenal kalem dan santun, malam itu berani berolah kata. Dengan cerdik ia menangkis tudingan bahwa ia penganut pandangan ekonomi neoliberal. Ia berani menyentil kanan-kiri dengan mengatakan tidak punya bisnis dan konflik kepentingan. Jabatan, kata dia, tidak untuk mencari muka.”

Terkait dengan masalah agamisme Tempo menulis:/s

"Dahinya tak menghitam, ia pun yak memelihara janggut, tapi banyak yang menyatakan ia sangat “islami” dalam bertindak dan berkata-kata.”

Dibagian lain Tempo menyatakan:

“Tudingan itu kelihatan kurang memiliki dasar yang kukuh. Boediono, misalnya, ikut berperan dalam pengucuran Bantuan Langsung Tunai, tindakan yang dalam paham neoliberal dianggap intervensi serius terhadap ekonomi domestik. Tak adil juga menempelkan gelar antek asing untuk Boediono, yang justru membebaskan kita dari utang Dana Moneter Internasional (IMF).”

Dari dua kutipan pemberitaan di atas, dapat dilihat bahwa Boediono yang ditempatkan dalam posisi yang terpojok oleh beberapa kalangan yang tidak menyetujui pemilihannya sebagai cawapres mendapat bingkai dari sisi yang lain yang coba diangkat oleh Tempo.

    4. Treatment Recommendation

Atas semua paparan mengenai Boediono tersebut, Tempo merekomendasikan agar dengan melihat prestasi yang telah disumbangkan, Boediono layak mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama dengan calon lain. Ini menunjukkan bahwa Tempo secara tidak langsung berusaha meredam resistensi terhadap Budiono.

Frame: Pemberitaan Mengenai Cawapres Boediono adalah Masalah Politik

Problem Identification Masalah politik
Causal Interpretation Boediono. Boediono sempat megalami resistensi dari banyak pihak terkait isu neoliberalisme, tidak mewakili pakem representasi Jawa-Non Jawa Nasionalis-Agamis, dan latar belakang nonpolitiknya
Moral Evaluation Boediono orang yang memiliki kemampuan dan prestasi di bidang moneter dan perekonomian. Sederhana, cendekia, dan tidak memiliki kepentingan.
Treatment Reccomenda-tion Dengan prestasi dan kemampuan yang sudah ditunjukkan oleh Boediono selama ini, ia layak untuk mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama dengan calon lain sebagai cawapres.
Boediono

Boediono

    Kesimpulan

Hasil analisis framing di atas yang menunjukkan bagaimana Tempo berusaha meredam resistensi terhadap keterpilihan Boediono sebagai cawapres melalui pengangkatan isu tandingan mengenai kemampuan, prestasi, dan kesederhanaan personalnya. Disebut tandingan karena polemik yang berkembang belakangan lebih karena urusan koalisi poitik, representasi politik dan isu neoliberalisme. Ketiga hal tersebut sangat bersifat politis dan justru tidak memberikan kesempatan pada para profesional yang telah menyajikan prestasi dan membuktikan kemampuannya dalam mengatasi permasalahan bangsa.

Tempo secara konsisten menampilkan berbagai prestasi dan kemampuan Boediono yang dengan segala kapasitasnya berhasil menangani masalah ekonomi dan moneter yang dihadapi Indonesia (seperti telah di bahas di bagian framing moral evalution). Intinya, Tempo dengan lugas ingin menegaskan bahwa pilihan SBY terhadap Boediono telah menunjukkan sebuah format politik yang ingin dibangun oleh sistem demokrasi di Indonesia, yaitu Meritokrasi. Bukan tidak mungkin, kerterpilihan professional seperti Boediono akan membuka kesempatan bagi para profesonal lain yang juga memiliki prestasi dan kemampuan untuk duduk di posisi stragtegis di dalam pemerintahan kelak. Gejala seperti inilah yang coba ditangkap dan ditegaskan oleh Majalah Tempo mengenai arah format perpolitikan Indonesia, Meritokrasi, seperti terlihat pada kutipan Rubrik Opini yang ditulis redaksi Tempo di halaman 23:

“Dengan memilih Boediono…SBY yang serba terukur itu meletakkan kualitas dan prestasi seseorang di atas kepentingan membangun koalisi…Hal terpenting, ini penghargaan terhadap meritokrasi meskipun “ongkos politiknya” tidak sedikit…Pemihakan Yudhoyono terhadap meritokrasi ini kelihatan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.”


[1] Nasution, Zulkarimein. 1990. Komunikasi Politik Suatu Pengantar. Ghalia Indonesia: Yogyakarta. Hal. 18

[2] Ibid.

[3] Term "patrimonialisme" digunakan untuk mengistilahkan bentuk organisasi sosial yang belum mencapai karakter birokrasi modern yang impersonal dan rasional. Sedangkan term "neo" menunjukan perkembangan baru suatu organisasi sosial yang sudah menggunakan berbagai sarana modernitas namun masih mempunyai karakter patrimonialisme. Denny, JA. 1996. Artikel “Mengawali Agenda Perubahan” di Harian Kompas edisi hari Kamis, 1 Agustus 1996.

[4] Redi Panuju (1997) dalam bukunya Sistem Komunikasi Indonesia walaupun tidak secara jelas menyebut format politik Orde Baru sebagai neo patremonialistik juga menyebut beberapa ciri pemikran politik Indonesia yang mengarah ke format tersebut, salah satunya: masyarakat Indonesia masih bersifat patrenalistik sehingga segala sesuatu yang menyangkut inisiatif, tauladan dan kewenangan harus dimulai dari elite politik. Rentetan dari sifat paternalistik ini menyebabkan pola komunkasi politik cenderung dari atas ke bawah (top-down). Panuju, Redi. 1997. Sistem Komunikasi Indonesia. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Hal. 39

[5]Denny, Op. cit.

[6] Louw, Erick. 2005. The Media and Political Process. SAGE Publication: London. Hal.71

[7] Ibid. hal. 90

[8] Cattelani, Patrizia. 1996. “Political Psychology” dalam Applied Social Psychology. Editor Gon R. Semin dan Klaus Fiedler. SAGE Publication: London. Hal. 293, Bagan ekuasi struktural mengenai hubungan antara pengetahuan politik dan partisipasi politik.

[9] Hamad, Ibnu. 2004.Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-berita Politik. Jakarta: Granit.

[10] Hal ini yang oleh Eisenstadt (1962) dalam Nasution (1996) adalah juga yang disebut sebagai hal yang membedakan sistem politik modern dengan sistem politik tradisional (baca: patrenalistik). Nasution, Op.cit hal. 61

[11] Nasution, Op.cit. hal. 62.

[12] Entman, Robert N. 1993. “Framing Toward Clarification of a Fractured Paradigm”, Journal of Communication, Vol. 43, No. 4.

[13] Penulis menggunakan format framing model Entmant sesuai dengan contoh yang disajikan Eriyanto dalam bukunya Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Eriyanto. 2002. Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. LKiS: Yogyakarta. Hal.204-209

Blog Stats

  • 3,903 hits

Global Visitor

Thank’s for coming!

free counters

online people

Almanak

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Intellectual Right

everything written here are dedicated to every person who have a lot of appreciate and honourable feeling to the conscience. Every act(s) related with copying or taking a part/whole of the text must be based on author permission. In this case, me. Then, have a nice read people..

Arsip

RSS kompas.com

RSS nytimes.com