Kurasai kecupmu ketika aku masih menyempatkan hela terakhir
Dan rabaanmu di ari yang mengering masih terasa
Sementara hal-hal yang terasa janggal berkitaran di seputar kepalaku
Maka yang terdengar di telingaku hanya ngiangan isakmu
,”Apa kamu akan meninggalkanku?”
Bukan. Bukan itu yang mestinya kamu tanyakan.
Aku masih perlu mencari kepingan terakhir. Aku tak akan mati secepat ini.
Hanya saja sisa-sisa hidup yang terabaikan ini membuatku malu.
Dan kamu masih berdiri di situ, di belakang perempuanku yang terisak.
,”Apa lagi yang akan kamu perlihatkan?”
Ah, kamu menggamit lenganku seperti karib lama. Memang kita teman lama, bukan? Apa? Senyummu selalu tendensius, kamu tahu itu. Hmm, baiklah. Kuikuti kemana kamu pergi atau lebih tepatnya kemanapun kamu membawaku. Nanti akan kukasih jawaban yang sama seperti kemarin, haha.. Semoga kamu masih bisa bertahan dengan pria banalis sepertiku.
Ia masih menggamit tanganku, lembut dan mesra seperti kawan lama. Kami berjalan berlambat-lambat seperti tak pernah terburu dengan nafasku yang tinggal sepenggal. Aku tak begitu memperhatikan ceracaunya. Mungkin ia masih mencoba meyakinkanku seperti biasa. Aku tak bisa cukup mendengar dengan sakit yang menghujami punggungku. Ia menoleh sebentar ke arahku dan mulai mengusap pundakku dengan lembut. Ia tahu aku mulai tercekat demi melihat mukaku yang pucat. Sesak mulai berkuasa di rongga dadaku. Semua pemandangan terlihat kabur dan semakin kabur hingga memutih. Aku menggeram keras dengan tangan meremas dada kiri. Terlalu perih di sana. Kalaupun bisa, aku akan benamkan tanganku ke dalam dan sekalian merobek jantung. Bahkan aku yang sekarang terlalu lemah untuk sekedar berpikir hiperbol. Ini terlalu dekat. Terlalu kelam.
***
Hei. Hei. Lampunya terlalu terang. Aku naikkan tanganku sebatas mata untuk menghalau silau. Untuk beberapa detik, kubiarkan pupil bermekaran kembang kempis demi membuatnya nyaman dengan cahaya sekitar. Aku mulai bisa melihat samar-samar. Aku bisa mengenalinya sosok yang berdiri dalam jarak sosialku itu. Ia yang berdiri di depan sana, agak melenceng tiga puluh derajat dari tempatku berdiri. Itu kawan lamaku, yang kubilang tadi, setidaknya biar kusebut ia seperti itu.
Ia tersenyum ramah dan menghendakiku duduk sekenanya, dimanapun. Setidakya itu yang bisa kubaca dari gesturnya sementara telingaku tak bisa mendengar suaranya. Ini cukup membuatku salah tingkah. Sebentar berdiri, lalu duduk bersila, lalu jongkok, dan berdiri lagi. Aku cukup sibuk dengan tingkah anehku hingga kusadari ia sudah berdiri di belakangku. Digapainya pundakku dan menunjukkan sebuah kursi hitam dengan meja kecil putih. Eh? Bukannya ini kursi yang biasa kulihat di ruang kuliah. Sekali lagi, ia memintaku duduk dengan laku yang santun.
Aku mulai melangkah menuju kursi itu dan menunggju kejutan lain yang bisa dilakukan karibku itu. Benar saja, baru sebentar aku membalikkan punggung dan menunduk sekedar untuk memastikan kursi itu kokoh untuk kududuki, ruangan itu sudah berubah dengan meja di pojok kiri dan dua papn putih besar di dinding depan. Apa ini? Cih, akan kamu kuliahi aku? Ia menjawab dan aku masih tak bisa mendengar suaranya. Huh, tak perlu lah kau kuliahi aku dengan hal yang sama. Yang sejaka bertahun lalu terus kamu dengungkan di telingaku. Percuma! Aku tak bisa mendengarmu!
Ia berhenti bicara. Bibirnya mengatup dan mulai menghela napas. Ia menengadahkan mukanya dan membuka bibirnya lagi. “Sedang berbicara dengan siapa?” tanyaku.
“Kita hanya berdua saja. Kan kamu baru akan mulai menguliahiku tentang … Yah apapun lah yang ingin kamu katakan. Apa kamu sudah menyerah menghadapai pris kecil nan skeptis ini? Ayolah.. Aku memang tak bisa mendengarmu bicara. Tapi jangan menyerah begitulah. Ini jadi tidak menarik lagi kalau kamu menyerah.”
Ia masih berbicara entah dengan siapa. Akhirnya aku hanya bisa menunggunya, menggaruk kepala, melihat lanskap sekitar yang baru kusadari ternyata sebuah ruang tanpa batas. Sial, terperangkap dimana lagi aku.
“Hei! Baiklah aku akan memperhatikanmu. Walaupun kamu tahu aku tak bisa mendengarmu. Aku akan pura-pura saja kalau aku bisa mendengarmu. Ha? Bagaimana?”
Ia turunkan kepalanya dari menengadah dan berjalan menghampiriku. Nah, aku berhasil membuatnya mau berkisah. Tak apa aku akan pura-pura mendengar. Toh aku pernah menjadi konselor dengan teknik mendengar aktif. Aku cukup tahu bagaimana mengapresiasi orang yang sedang berbicara. Sekalian kupraktikkan ilmu ini untuk menjawab hipotesisku sendiri. Hipotesis konyol, apakah cara seperti ini juga berlaku untuk mahluk sepertinya.
Ia pandangiku lekat. Hei, kamu membuatku miris. Kenapa? Aku suka hitam, kupakai kaos hitam. Aku suka denim, kupakai denim belel favoritku dengan sobek menganga di kaki kiri. Ada yang salah? Ia menggeleng dan lagi-lagi tersenyum. Sial. Kenapa kamu suka sekali tersenyum sambil menoleh? Cih, tingkahmu itu persis seperti para aktor drama Korea yang berperan sok misterius tahu. Coba kamu manusia, pasti bisa kamu bikin perempuan sejagat menggilaimu. Sayangnya, bahkan kamu sendiri tak bisa menilai kelaminmu. Ya, sudahlah. Mari kuliahi aku.
***
Ia mendeham. Aku bisa mendengar bahkan hinggan dehamannya. Hei, aku bisa mendengarmu. Kutepuk pundaknya yang bersayap itu dan memberinya acungan jempol. Ia menuduk dalam dan, seperti biasa, tersenyum. Cih.
“Masih belum mengerti, kawan?” Katanya pelan.
“Apanya?”
“Biar kuperlihatkan sekali lagi padamu.”
Jadi dibawanya aku pergi. Aku tak benar-benar mengerti tentang apa yang ditanyakannya. Juga semua yang dibicarakannya sepanjang perjalanan. Aku tak mengerti. Atau lebih tepatnya aku sudah tak mau mengerti. Kenapa aku harus melakukan hal-hal yang kamu katakan? Toh tak melakukan hal-hal itu pun aku tak akan jadi orang jahat. Aku tak merugikan orang lain. Aku tak mendzalimi orang lain -kupakai bahasamu sekarang-. Aku tak membunuh orang. Aku tak membuat mereka di sekelilingku menanggung dosaku. Dan dengan perempuanku, kulakukan yang mesti kulakukan. Tak perlu lah itu apa yang kau sebut, bukannya itu cuma sebatas pelegalan atas hal yang Ia Besar larang. Apa bedanya? Toh aku menghidupinya. Aku tak buat hidupnya menderita. Dan lihatlah itu! Putri kecilku yang tumbuh montok dan riang mengitari bumi. Apa yang salah?
Kamu katakan Ia Besar menciptakan setiap mahluk untuk menyembah. Apa ia sangat kesepian? Sekesepian itu? Aku tak mau mengerti, kawan! Aku menjadi manusia, cukup! Aku tak memiliki intensi untuk berbuat munkar -kupakai lagi bahasamu-. Jadi untuk apa aku memerlukan ikatan dogmatis yang mereka bilang untuk mengikat manusia pada fitrahnya? Untuk menjaga setiap hal tetap suci dan baik? Cih! Aku tak mau mengerti, kawan!
***
Kenapa kamu perlihatkan Bundaku? Apa kamu memang ingin menggerus lagi kemarahanku pada Ia Besar? Aku masih tak terima ia diambil begitu saja. Kenapa ia tak mengambilnya lagi nanti? Nanti, ketika aku memang siap kehilangannya. Kamu tak tahu bagaimana aku harus hidup kemudian. Terasing, sendirian, dan tak peduli pada semuanya. Aku pantas marah!
Apa? Akan kau beri aku kesempatan untuk menjenguk Bundaku. Kenapa tak sekalian kamu matikan aku biar nanti aku tinggal disana dengannya?
“Untuk apa? Ia memberi kesempatan setiap orang untuk berubah. Untuk kembali pada ribaannya yang nyaman. Kamu masih bisa memperbaiki semuanya. Masih bisa membangun jalan bersama perempuan dan putri kecilmu itu. Kamu hanya perlu untuk mengerti.”
Aku belum sempat menyanggahnya ketika sebuah sentuhan di rahangku sangat sangat bisa kukenali. Itu Bunda, masih dengan senyumnya yang menawan. Masih seperti ketika semua orang memanggilnya Ibu Cantik. Masih dengan rona mukanya yang cerah. Masih dengan gaun panjang favoritnya dengan pola garis merah muda hitam berselang. Masih dengan liontin berwarna ungu yang menggantung di kalungnya.
Bunda mendekatkan dirinya padaku, menggapai pundakku, dan mulai membisikkan hal yang tak bisa kudengar. Aku tak bisa mendengarmu Bunda. Aku tak bisa mendengar apapun yang kamu katakan. Kenapa aku tak bisa mendengarmu Bunda? Aku tak bisa mendengarmu! Aku tundukkan kepalaku dan membenamkannya di pelukan Bundaku. Aku biarkan air mataku meleleh sejadi-jadinya. Sial. Kenapa aku malah sesenggukkan seperti bocah kecil begini? Tapi aku memang tak bisa mendengarmu.
“Kamu tak mendengarnya? Kamu juga tak mendengarkanku sebelumnya. Aku masih ingat bagaimana kamu bermain pura-pura mendengar.” kawanku mulai bersuara.
“Kenapa aku tak mendengarmu? Kenapa aku tak bisa mendengar Bundaku?”
“Kami mengatakan hal sama. Hal yang tak pernah mau kamu dengar. Tak pernah mau kamu mengerti.”
Aku cerna baik-baik kata-katanya dan mencoba mendalami pemikiran picikku lagi. Kuangkat kepalaku dari pelukan Bunda dan menghapusi sisa lelehan yang membuat wajahku persis seperti bocah ingusan yang terobsesi permen. Bunda tegakkan kepalaku dan aku bisa membaca wajahnya. Aku bisa mendengar sedikit suara. Apa? Masih belum jelas. Aku dekatkan lagi diriku padanya dan membiarkan telingaku tinggal seinci dari bibirnya. Aku masih tak bisa mendengar jelas. Aku bisa menangkap sepatah, sepatah lagi, dan kupahami seperti ini.
“Setelah ini, aku mau kamu belajar untuk mengerti. Bukannya pria kecil Bunda ini suka sekali belajar. Belajar apa saja. Kamu bisa belajar dari perempuanmu. Belajar juga untuk mengerti kenapa Ia Besar perlu ditemani. Belajar juga untuk membuat dirimu tak lagi kesepian karena keberadaannya.”
Aku kembali sesenggukan. Merasai punggung yang lemah dan aku harus menopangkannya pada kakiku yang gemetaran. Aku tegakkan diriku sebisanya. Mencoba membantahnya untuk mengatakan tidak tentang satu hal ini. Tapi terlalu bodoh mengatakanya di depan Bundaku.
“Mau kau lakukan itu untukku?”
“Kenapa? Untuk apa?”
“Untuk menghilangkan marahmu pada Ia Besar. Lihat dirimu sekarang. Bunda tak pernah membayangkan kamu akan sekuat ini. Jauh di luar yang Bunda harapkan. Kamu ditanami kelebihan dan itu telah berkembang dengan baik. Kamu hanya perlu menambahkan..”
“Apa Bunda? Aku tak bisa mendengarmu lagi!”
***
Senang melihat senyummu lagi. Terlalu melegakan bisa menghabiskan yang tersisa denganmu. Apa di luar hujan? Ya, semoga mereka tak menghentikannya segera. Bisa kamu bantu aku ke dekat jendela? Aku ingin melihat hujan dan genangannya di tanah. Coba buka sedikit tirainya biar bisa kurasakan percikan burai hujan di wajahku. Apa? Tidak. Jangan khawatir. Aku sudah cukup sehat untuk menimati sedikit hujan. Lagipula kamu tahu aku keras kepala. Iya, kan?
Masih seperti dulu kan, Jingga? Hujan, tenang, dan kamu melingkarkan tanganmu di leherku. Aku akan katakan sesuatu padamu. Kamu akan mendengarnya, iya kan? Kau tahu? Aku masih terus belajar untuk mempertahankan skeptisme yang kupunyai sejak menjadi pria dewasa adalah keharusan. Namun, kadangkal ia terlalu picik dan berbahaya. Itu karena ia akan memberikanmu semacam sekat yang memisahkan realitas iamaji dalam demografi yang terlalu maya. Untuk itu, aku perlu belajar. Belajar tentang hal yang telah lama tak mau aku mengerti. Biar kemudian aku mengerti dan menjadi pria yang baik untukmu. Bantulah aku agar mengerti.
“Tentang apa, Mas?” itu tanyamu. Selalu dengan diiringi nada yang manis dan lugu.
“Iman. Iman adalah hal yang belum benar-benar bisa kumengerti..”





mereka berujar