kesenangan

Rasa Hujan, Hujan Rasa

December 21st ’10 11.48pm
Rasa Hujan, Hujan Rasa

Hujan merinai di luar jendela bilik ini, kecilku, tepat sepersekian jengkal menuju tengah malam yang redup dan kusam. Kau tahu, aku sedang membenci seluruh bagian tubuhku yang basah kuyup dengan pilihan-pilihan rasional yang membuatku mengernyitkan dahi sepanjang hari. Tapi selebihnya aku senang, senang karena diberi selangkahan jarak dengan tempatmu terduduk. Karena jika jarak itu tak ada, aku cuma akan meringkuk terus-terusan di pangkuanmu seperti lelaki kecil yang senewen karena malas bergerak. Haaah.. Aku akan menghela sepanjang yang aku bisa tiap kali merindui punuk yang berasa hambar karena berhari-hari tak disentuh dengan benar oleh ujung-ujung arimu.

Mereka, orang-orang yang berlalu lalang di jalanan, manusia-manusia bermuka kecut yang tak kita kenal itu, mereka benar tentang beberapa hal. Termasuk tentang perasaan sentimentil karena terlalu larut dengan diri sendiri. Aku dan diriku sendiri mungkin sedang saling menganiaya dengan tak berhenti melakukan pengecualian. Seperti membantah dan menolak untuk mengakui bahwa kesendirian yang kami miliki ini memang benar-benar tak bisa dinikmati. Aku menghindari perasaan-perasaan manipulatif, yang sepersekian tahun yang lalu bisa kelakukan seenak memalingkan muka.

Benarkah aku melakukannya? Belakangan kupikir tidak juga. Yang benar adalah otakku yang kemerahan ini mulai beriringan dalam ritme pelan hemoglobin yang pekat oksigen. Lalu oksigen yang sok murni itu memecah kebuntuan, meninggalkan relaksasi diseputaran leher belakang, dan menyisakan pesan-pesan misterius. Sebagian dari pesan itu adalah sugeti-sugesti yang tak sepenuhnya benar dan sisanya adalah bentukan improvisasi yang kebetulan muncul. Sangat kreatif. Sangat kreatif. Terlalu kreatif bahkan untuk membungkam sifat-sifat dasar manipulatif dalam diriku.

Aku berhenti saja. Berhenti memanipulasi diriku sendiri. Manipulasi itu hal yang terlalu indah untuk dilakukan pada diri sendiri yang tak tahu benar apa gunanya dimanipulasi. Aku menyerah saja. Menyerah dan membiarkan tiap kuncup di kepala ini dibanjiri perasaan-perasaan yang sejak awal bertumbuh dari geragih yang tertinggal dari memori kita berdua. Iya, ini tentang kita berdua.

Kita berdua berbagi rasa yang mustahil. Berbagi rasa yang naif. Berbagai rasa yang tak jelas letak esensinya. Berbagi rasa yang cuma bisa kita tertawakan dalam kekehan kakek-nenek. Berbagai rasa yang tak penting untuk diuraikan karena yang kita tahu hanya bagaimana cara untuk tetap menyenangi rasa itu.

Ini tak seperti rasa coklat tebal dari es krim yang meleleh tiap kali digigit. Bukan juga sensasi ketika ujung-ujung bibir bersentuhan dengan stik es krim setelah berhati-hati mengunyah bagian vanila padatnya. Ini bukan tentang rasa seperti ketika es krim itu habis dan kita puas hingga tak menginginkannya lagi. Ini lebih seperti..seperti ketika kita begitu mengharu biru, obsesif, dan bersemangat setelah termakan iklan yang intrusif dari kotak ajaib.

Mereka, orang-orang yang berlalu lalang di jalanan, manusia-manusia bermuka kecut yang tak kita kenal itu, merasa tahu benar kata yang efektif untuk menyebut rasa kita. Ah, kamu tahu benar apa yang ada kepalaku. Aku akan katakan aku tak peduli bagaimana mereka menyebutnya. Mereka pandai menyebut tapi tak lihai merasa. Kita, kita berdua, adalah perasa terhebat di dunia. Kita tak perlu mengerti sebutan tentang rasa ini. Kita tak memerlukannya selama kita masih terus obsesif dan bersemangat untuk menghidupinya. Pada akhirnya, kita berdua akan terbahak belakangan demi melihat muka orang-orang ini mengerut dan mereka masih tak mengerti benar apa rasa yang mereka namai itu.

Hei, pegang tanganku. Bukan, jangan lagi dilenganku. Letakkan persis untuk mengait kesemua jari. Ya, itu terasa lebih baik. Ahaha, kamu tahu benar bagaimana mengayunkan kepalan kita berdua dengan cara yang lucu. Ah, harusnya kita terlahir di Eropa, atau di tempat dimanapun dimana orang-orang di jalanan tak perlu senewen melihat kita berdua berpelukan. Hanya berpelukan saja dan akan kuperlihatkan pada mereka apa rasa yang tengah kita jalani ini. Ya, mereka akan mencibir, karena mereka tak mengerti dan sisanya karena mereka terlalu arogan untuk mengalah dan mencoba mengerti rasa milik manusia lain.

Harusnya kita segera bisa memiliki malam untuk kita berdua saja. Kenapa? Agar aku bisa meringkuk di dekat dahimu yang lebar dan mengusap-usap alis mata yang halus itu hingga subuh hari. Nanti, ketika kamu bangun dengan nyawa yang baru setengah, aku akan dekatkan mukaku dan membiarkan bibirku menemui jarak yang terlalu dekat dengan telingamu untuk membisiki rasa itu. Ya, hanya ketika kamu terbangun dengan setengah nyawa, hanya ketika secara tak sadar kamu tersenyum dan mengalirkan buliran di sekitaran pipimu.

Harusnya kita juga segera bisa memiliki pagi hari untuk kita berdua saja. Mungkin antara pukul enam lebih limabelas hingga setengah tujuh dengan cahaya hangat menyusupi dapur kecil kita. Aku akan menemuimu disana, sembari membetulkan buah baju aku akan memandangi punggungmu yang bersayap-sayap jingga. Aku akan melingkarkan lenganku di pinggangmu dan mendapati bahumu yang wangi untuk disandari. Aku akan jadi lelaki kecil yang baik untukmu saja. Aku akan menunggumu menoleh untuk mengecup sebelah dahiku. Itu saja. Itu saja untuk setiap pagi.

***

Sudah sejauh ini dan kita hanya bisa menatap mendung berkelebatan di bulan Desember dari ranah yang berjauhan. Desember, bulan dimana kita tak bisa bersetia pada tahun yang berlalu. Bulan ketika kita mesti siap-siap dipaksa untuk melangkahi hari-hari yang mungkin juga kita tak mau. Bulan yang kita berdua begitu sukai -selain Oktober- karena hujan menurun dengan tetesan-tetesan yang rancak. Bulan dengan kelam menuju terang selepas November yang kelabu ini selalu jadi waktu yang tepat untuk duduk di beranda. Nah, kita mesti miliki masa itu di hari depan, ketika kita berdiri dan berpegangan tangan di beranda dengan secangkir teh hangat di malam hari yang gerimis. Nanti, nanti kita bagikan rasa yang kita miliki ini pada hujan. Biar ia turunkan juga rasa itu, dan menyusupkannya pada orang-orang yang berjalan di tengah hujan, pada orang-orang yang beruntung karena bisa menikmati hujan membasahi kepala, pada orang-orang yang terkekeh dan menari-nari di tengah hujan. Orang-orang semacam itu pasti mengerti rasa yang kita miliki.

Tentang Arya Pamungkas

another almost mid-twenty geek who has a redundant obsession of having a vigorously happy family..

Diskusi

Satu Tanggapan to “Rasa Hujan, Hujan Rasa”

  1. impresip, ada es krim segala. :mrgreen:
    prok..prok..prok..

    Posted by upik | Januari 8, 2011, 1:18 pm

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Intellectual Right

everything written here are dedicated to every person who have a lot of appreciate and honourable feeling to the conscience. Every act(s) related with copying or taking a part/whole of the text must be based on author permission. In this case, me. Then, have a nice read people..

tweet

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.