[Sua]
Masih saja dengan kelingking yang mengait dan mengayun, aku tahu kamu sedang berusaha bercengkerama dengan hati yang berpilin-pilin karena tiba-tiba jarak menghilang dari keberadaan kita berdua. Sepersekian menit setelahnya, kita hanya akan bersetatap dan membiarkan dahi, dagu, telunjuk, dan lengan bertingkah telepatik. Iya, aku dengar mereka mengetuk-ngetuk, gemeratakan, lalu menyeret-nyeret tisu. Sementara riuh ruang ini terus-terusan dipenuhi orang-orang yang senewen dan hujan yang ramai di luar sana makin bersemangat menggoda kita untuk mengejar burai. Tapi aku memilih untuk berhenti menjadi impulsif dan membiarkannya memerangkap kita untuk mengharu kesunyian karena kita biasa bercakap lewat udara.
[Solitari]
Begitu saja kamu menjumpa tepat ditengah kesendirian yang pongah karena aku terlalu lama bertutur sapa dengan dinding-dinding yang tertawa sinis. Entah bagaimana, kamu membuatku menyesal telah menginduksemangi waktu-waktu yang dengan kesiaan terpinggirkan begitu saja dan terus-terusan membuatku bebal. Dan detak-detak itu tak pernah berhenti mengiringimu sepanjang marga sementara aku bersikukuh menolak untuk pergi, untuk berjingkat di petak-petak bumi bersamamu. Yang kulakukan hanya menunggu detik berhenti barang sejenak dan meraung-raung memintamu berputar arah agar aku bisa melingkupi punggungmu dengan erat, menyimpanmu di dalam saku, biar detak-detak itu tak bisa lagi mengambilmu.
[Karnaval kelinci di Minggu pagi]
Minggu pagi, impuls yang lain melipati kelopak mata, menyeret-nyeret tendon, melepas serotonin yang terkadang telalu kikir untuk disemai disepanjang ari dan berbagi ria dengan sel-sel yang disusupi binar demi memecah vitamin yang entah berapa bulan mengendap. Maka, satu dari empat hal ganjil yang bisa mendirikan punggungku untuk mengecupi pagi adalah rasa-rasa janggal yang bertumbuh sejak Ia Besar meminjamkanmu padaku. Rasa-rasa itu berjumpalitan setara karnaval kelinci bersemai hijau di tengah ilalang yang memutih. Dan kamu, selalu tahu benar bagaimana menari-nari di tengah kerumunan itu sementara aku akan merendahkan leher sedemikian rupa, sewajarnya orang-orang bereaksi akan hal-hal lugu.
[Botol-botol Hujan]
Setelahnya, waktu pula yang memagutmu sebelum kita sempat memulai ritual yang kita senangi. Ritual? Iya, para cenayang di semenanjung senang bermain dengan mendung, menenun bulir-bulir hujan dan menjatuhkannya di tempat-tempat semestinya. Tapi kita lebih suka bermain-main sehabis [hujan] reda, meniup-niup aroma tanah yang sembab, dan memasukkannya ke dalam botol-botol kaca. Aku tahu, kamu selalu menyimpan satu botol mungil itu di dalam tas kecilmu, memercik sebagian darinya di kedua pergelangan tangan lalu mengolesnya ke seputaran tengkuk. Aku tahu, karena kamu selalu seharum hujan..

Diskusi
Belum ada komentar.