monolog biru

Sisi Semesta Lain

Terakhir kurasa, semesta masih terdefinisi linear. Maju dan berpendar dalam kelumit yang enggan kembali. Ia berjalan bersamaan dengan gapaian selemparan lengan kita yang logis, yang tak cukup mumpuni untuk menghidupi lebih dari catur dimensi.

Entahlah. Ia melingkupi dan menjadi persemayaman bagi banyak hal yang bertemu di simpangan. Jadi, biarpun setapak terkesan sengkarut dan memutar, Ia masih melaju ke depan.

Kita, yang mungil ini, hanya serupa not-not yang berisik. Terkadang selaras, namun lebih nyaman untuk menjadi sumbang nan bengal. Tak apa kan? Toh, kita masih berserah pada semesta yang sama. Ya, kecuali jika yang berkuasa adalah picik. Picik meninggalkan kita pada semesta yang seolah-olah, yang seringkali salah, yang meminta kita untuk percaya pada kalah bahkan sebelum juang dimulai.

***

Perempuan itu tercenung. Rongganya dipenuhi alveoli yang sesak karbon dan mencekat hingga sisi paru yang kembang kempis. Ia mengingat setiap panggilan yang tak terjawab. Ia merutuki tiap pesan yang bertanda kirim tapi tak terbaca. Ia siap untuk meluruhkan buliran-buliran di sudut mata. Ia memejam mata dan berujar lirih,”Kupikir semesta berpihak pada kita.”

Prianya tak ada di kereta. Tak ada di kursi yang mereka pesan berdua.

***

Pria itu gugup. Ia mainkan ujung-ujung kacamatanya dan terus-terusan melap lensa yang sudah tak sisakan noda. Tetapi nadinya terlampau tenang. Ia pandai bersembunyi diantara nafas-nafas yang janggal.

Ia membisikkan,”Apakah kita pernah siap untuk ini?”

Perempuan kecilnya menggumam,”Bagaimana kita berdua tahu?”

Lalu dialog yang sama berturutan dan berulang dengan keduanya yang sama-sama ragu.

Pria itu tiga per empat paham akan peluangnya dan tentu sekalian dengan kerusakan yang mungkin terjadi setelahnya.

“Apapun nanti, jika akhirnya adalah “tidak”, apakah kamu akan berubah?”

Perempuannya termangu dan memang tak ingin melempar gestur apapun yang bermakna ganda.

“Kita akan coba lagi jika ini gagal. Kita akan lakukan lagi dengan preposisi yang lebih baik dari hari ini.”

Perempuan itu sajikan senyum. Ia lihat kebalik kaca jendela yang gelap dan digamitnya lengan prianya. Ia tak lagi sempatkan menoleh dan bertanya. Tiap gerakannya serupa ajakan yang manis,”Aku tak habiskan sekian hidupku denganmu hanya untuk menjadi ragu pada saat seperti ini.”

Pintu terbuka. Mereka bisa melihat sosok-sosok yang sama-sama gugupnya dengan mereka berdua.

“Berhentilah. Kami memilih tidak.”

***

Pria itu sudah hampir berpuluh menit memandangi kegelapan di luar kereta. Ia memincingkan matanya di kedalaman di luar sana. Seolah miopinya memang berkarib baik dengan kelam. Kelam yang lebih suka ia namai biru tua.

Sesekali secara tak sadar dahinya menempel di jendela, meninggalkan bercak-bercak minyak dari wajahnya yang mulai lelah. Ia lalu merogoh beberapa lembar tissue dari ransel di bawah kursinya. Ransel yang tak pernah benar dipahaminya, yang di dalamnya bak semesta lain. Selalu penuh dengan pernik-pernik yang tak mungkin terpikir olehnya. Ransel kesayangan perempuannya.

Pria itu melenakan punggungnya, mengesampingkan pandangan, dan mulai meraih-raih jemari lentik dari perempuan di sampingnya. Perempuan itu tengah mengembara di mimpinya. Ia pulas dilengkapi selimut hijau berwangi lavender.

“Semesta mana yang sedang kamu singgahi kecilku?” bisiknya.

“Aku masih tak tahu bagaimana Ia Besar memilih berbagi rasa dengan kita berdua dan melampaui tiap harapan yang bahkan kita tak kunjung bisa kuatkan. Ia biarkan kita memenangi restu. Benar, kan?”

Ia usap beberapa helai rambut dari dahi perempuannya. Diingatnya sebagian semesta berlainan yang bergumam di sela-sela kepalanya. Semesta ternyata tak berkehendak sepahit yang dibayangkan. Ia masih tetap linear sepanjang keberanian mereka. Ia membelok, bercabang, dan bertemu dengan keberuntungan. Ya, animum fortuna sequitur. Keberuntungan mengikuti keberanian.

“Nanti ketika kamu bangun, ingatkan aku. Ingatkan aku bahwa semesta berpihak pada kita.”

Iklan

About Arya Pamungkas

another almost mid-twenty geek who has a redundant obsession of having a vigorously happy family

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Intellectual Right

everything written here are dedicated to every person who have a lot of appreciate and honourable feeling to the conscience. Every act(s) related with copying or taking a part/whole of the text must be based on author permission. In this case, me. Then, have a nice read people..

tweet

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

%d blogger menyukai ini: